Kesehatan

Anak Obesitas Berisiko Alami Defisiensi Zat Besi

Dwi AstariniDwi Astarini - Senin, 15 April 2024
Anak Obesitas Berisiko Alami Defisiensi Zat Besi

Obesitas membuat anak dan dewasa muda mengalami anemia. (freepik/jcomp)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH.COM - KONDISI kekurangan zat besi ternyata terkait erat dengan masalah kelebihan berat badan atau obesitas. Penelitian terbaru mengungkap obesitas membuat anak-anak dan dewasa muda mengalami defisiensi (kekuarangan) zat besi.

Seperti dikabarkan Medical Daily, penelitian dilakukan para ahli nutrisi dari Universitas Leeds, Inggris, kepada ribuan penelitian medis dari 44 negara yang melibatkan peserta di bawah usia 25 tahun. Penelitian dilakukan dengan mencatat kadar zat besi dan vitamin serta mineral lainnya bersama dengan berat badan peserta.

Baca juga:

Pemberian MPASI Tepat Cegah Obesitas

Analisis yang dipublikasikan di jurnal BMJ Global Health itu menunjukkan kekurangan zat besi berkaitan dengan kondisi anak-anak dan remaja yang kelebihan berat badan dan obesitas. Namun, kekurangan zinc dan vitamin A hanya ditemukan pada anak-anak yang kekurangan gizi.

Defisiensi zat besi dapat menyebabkan anemia, suatu kondisi yang mengakibatkan kurangnya sel darah merah yang sehat. Gejala yang ditimbulkan kondisi ini meliputi kelelahan, lemas, kulit pucat, kuku rapuh, dan nafsu makan buruk.

Anemia dengan defisiensi besi dapat menyebabkan komplikasi termasuk gangguan jantung seperti detak jantung tidak teratur, kelahiran prematur, berat badan lahir rendah pada ibu hamil, dan keterlambatan tumbuh kembang pada anak kecil.

Penelitian sebelumnya telah mengidentifikasi kekurangan zat besi sebagai masalah pada orang dewasa yang menderita obesitas. Namun, penelitian terbaru ini menjadi yang pertama melihat hubungan tersebut pada anak-anak.

“Hubungan antara kekurangan gizi dan zat gizi mikro yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak sudah diketahui dengan baik, tapi sedikit yang diketahui mengenai risiko kekurangan zat besi, vitamin A, dan zinc pada anak-anak dan remaja yang kelebihan berat badan atau obesitas, sehingga menjadikan hal ini sebagai bentuk tersembunyi dari penyakit. malanutrisi,” kata penulis utama Xiaomian Tan.

Para peneliti mempercayai kekurangan zat besi pada anak-anak yang kelebihan berat badan mungkin disebabkan mekanisme gangguan peradangan yang mengatur penyerapan zat besi.

“Di Inggris, satu dari tiga anak usia 11 tahun hidup dengan kelebihan berat badan atau obesitas. Data kami menunjukkan, pada anak-anak yang kelebihan berat badan, peradangan yang menyebabkan kekurangan zat besi bisa menjadi masalah,” kata pengawas penelitian Bernadette Moore.

Menurutnya, status zat besi mungkin tidak sebanding dengan tambang batu bara, tapi masalah sebenarnya ialah peradangan yang berkepanjangan menyebabkan penyakit jantung, diabetes, dan perlemakan hati.

Untuk mengurangi peradangan dan meningkatkan status zat besi, para peneliti merekomendasikan untuk meningkatkan aktivitas fisik dan pola makan. Mereka juga menggarisbawahi perlunya penelitian lebih lanjut mengenai efektivitas tindakan intervensi.(*)

Baca juga:

Temuan Terbaru, Bahan Kimia di Botol Plastik Punya Kaitan dengan Obesitas Anak

#Kesehatan
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Lifestyle
Dokter Citra Poerwa Ungkap Dampak Stres Finansial bagi Kesehatan hingga Sandwich Generation
Dokter Citra Poerwa menjelaskan kaitan stres finansial dengan kesehatan mental dan fisik serta pentingnya skala prioritas bagi sandwich generation.
Soffi Amira - Minggu, 25 Oktober 2026
Dokter Citra Poerwa Ungkap Dampak Stres Finansial bagi Kesehatan hingga Sandwich Generation
Indonesia
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Kualitas udara Jakarta berada pada poin 162 dengan tingkat konsentrasi polutan PM 2,5 sebesar 71 mikrogram per meter kubik.
Dwi Astarini - Rabu, 21 Oktober 2026
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Fun
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
We Pause We Rise menggelar Rose & Bloom untuk mengedukasi perempuan tentang perimenopause dan menopause, termasuk brain fog, kesehatan tulang, dan hipertensi.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 19 Oktober 2026
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
Indonesia
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Secara kumulatif, jumlah kasus selama Januari hingga Oktober 2026 juga lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Dwi Astarini - Sabtu, 17 Oktober 2026
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Lifestyle
Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Inovasi F1 telah memberikan dampak yang jauh melampaui lintasan balap.
Dwi Astarini - Kamis, 15 Oktober 2026
 Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Berita Foto
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
SPG menunjukkan tampilan antarmuka (user interface/UI) aplikasi U-Buddy saat peluncurannya di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 07 Oktober 2026
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Lifestyle
Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Berapa kali celupan yang dibutuhkan untuk memindahkan jumlah bakteri yang kira-kira sama banyaknya dengan ciuman berdurasi 10 detik?
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
 Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Indonesia
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Anak demam tinggi dan sesak napas? Peringatkan bahaya virus influenza tipe A pada anak. Segera bawa ke faskes rujukan terdekat!
Wisnu Cipto - Jumat, 02 Oktober 2026
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Lifestyle
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Dokter Paskah ungkap tiga tantangan pengobatan gagal jantung lanjut di Indonesia, mulai dari literasi masyarakat, keterbatasan dokter hingga mahalnya teknologi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Bagikan