MerahPutih.com - Dalam beberapa pekan terakhir ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akhir-akhir mengalami pelemahan. Bahkan, Bank Indonesia telah melakukan intervensi dengan menggunakan cadangan devisa yang saat ini posisinya sebesar USD 139 miliar.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh angka Rp 16.431 pada Mei lalu, dipengaruhi oleh kekecewaan pasar terhadap kondisi perekonomian global.
Suku bunga The Fed diperkirakan tidak akan mengalami penurunan sebanyak seperti yang diharapkan pasar.
Pasar memprediksi akan terjadi penurunan sebanyak empat hingga lima kali pada tahun ini. Namun, hingga sejauh ini, Fed Fund Rate (FFR) masih stabil pada posisi 5,5 persen dan tidak menunjukkan tanda akan terjadi penurunan.
Baca juga:
"Yang paling optimis penurunannya hanya satu kali pada tahun ini. Ini yang menyebabkan ekspektasi pasar yang kecewa," katanya.
Kekecewaan itu, menimbulkan reaksi yang menyebabkan penguatan indeks dolar AS dan menyebabkan depresiasi mata uang, termasuk mata uang Rupiah.
Sri Mulyani menegaskan, rupiah mengalami depresiasi 6,58 persen, senada dengan nilai tukar sejumlah negara berkembang lainnya. Namun, pelemahan nilai tukar rupiah diklaim masih lebih baik dibandingkan dengan Brasil dan Jepang yang menunjukkan pelemahan jauh lebih dalam.
“Bahkan Jepang berada pada level yang sebanding dengan 1986,” ujarnya.