Ahli Sebut Bersihkan Telinga Pakai Cotton Bud Berbahaya
Cotton bud. (Pexels.com/Karolina Grabowska)
MerahPutih.com – Cotton bud merupakan salah satu solusi membersihkan telinga bagi kebanyakan orang. Padahal, menurut Dokter sekaligus Healthy Educator, dr Nadia Alaydrus, kebiasaan menggunakan cotton bud bisa menimbulkan masalah lain yang berbahaya untuk telinga. Kok bisa?
Karena cotton bud yang digunakan justru akan membuat kotoran di dalam telinga menjadi semakin terdorong sehingga menyebabkan penumpukan di dalam telinga.
Baca juga:
Pernyataan dr Nadia pun didukung oleh salah satu penelitian tentang kelainan dermatologi. Penelitian itu menyebut bahwa ada hubungannya antara penggunaan cotton bud dengan masalah kesehatan telinga.
“Ini nih ada suatu penelitian berjudul Association of Dermatological Conditions of External Ear with the Use of Cotton Buds yang menyatakan pada 67 case dan 83 kontrol penelitian dimana 58 dari 67 case-nya adalah penggunaan cotton bud,” kata dr Nadia, dikutip dalam akun TikToknya @nadialaydrus, Sabtu (27/4).
Dalam penelitian itu juga menyebutkan bahwa beberapa komplikasi yang bisa terjadi ketika menggunakan cotton bud yaitu ada wax impaction, ear plain, otitis external, bahkan perdarahan.
Dokter Nadia mengatakan kotoran telinga atau serumen telinga sebenarnya adalah pelindung telinga agar terhindar dari kotoran luar seperti debu, virus, dan bakteri, sehingga kondisi seperti ini sekalipun tidak dibersihkan maka tidak menjadi masalah. Sebab kotoran telinga bisa keluar dengan sendirinya ketika ada gerakan seperti mengunyah, menguap, atau berbicara.
Baca juga:
“Nah tapi ada beberapa kondisi tertentu yang menyebabkan serumen itu menjadi mengeras dan susah untuk dikeluarkan yang kadang bisa menyebabkan gatal, nyeri, menurunnya pendengaran, dan telinga tuh jadi berdenging,” ucap dr Nadia.
Oleh karena itu, dr Nadia menyarankan apabila masyarakat mengalami kejadian serupa ada baiknya memeriksakan diri ke dokter atau fasilitas kesehatan lainnya agar keluhan bisa ditangani dengan tepat dan cepat. (Chn)
Bagikan
Chindy Aprilia Pratiwi
Berita Terkait
Program Keluarga SIGAP Dorong Perubahan Perilaku Lewat Layanan Kesehatan Primer
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah
Waspada Super Flu, 62 Kasus Terkonfirmasi di Indonesia Terbanyak di Jawa Timur
Super Flu Masuk ke Indonesia, Kemenkes Imbau Kenali Gejala dan Terapkan Protokol Kesehatan
Teknologi Bedah Robotik Memungkinkan Tindakan Presisi untuk Kenyamanan Pasien, kini Hadir di Siloam Hospitals Kebon Jeruk
SDM Dokter belum Terpenuhi, Kemenkes Tunda Serahkan RS Kardiologi Emirate ke Pemkot Solo
Program Pemutihan BPJS Kesehatan Berlangsung di 2025, ini Cara Ikut dan Tahapannya