Ahli Iklim Sebut Gletser yang Runtuh Picu Banjir Bandang Mematikan di Nepal

Dwi AstariniDwi Astarini - Kamis, 27 Agustus 2026
   Ahli Iklim Sebut Gletser yang Runtuh Picu Banjir Bandang Mematikan di Nepal

Banjir Bandang Terjang Nepal.(foto: Instagram @europa_sin_filtro)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH.COM — BANJIR bandang mematikan di dekat perbatasan Nepal dan Tibet pada Rabu (26/8) mungkin dipicu keruntuhan bagian bawah sebuah gletser. Hal itu kemudian jatuh ke dasar lembah ratusan meter di bawahnya. Demikian diungkap para ahli yang merujuk pada citra satelit dari Planet Labs.

Meski menyebut keruntuhan gletser, para ahli belum mengetahui secara pasti apa yang menyebabkan gletser tersebut runtuh. Namun, pejabat Nepal menyebut gempa bumi yang terjadi di wilayah tersebut beberapa menit sebelumnya sebagai salah satu kemungkinan penyebab.

Pihak berwenang di kedua sisi perbatasan khawatir jumlah korban akan jauh lebih tinggi daripada hampir 100 jenazah yang sejauh ini telah ditemukan. Pemerintah Nepal mengatakan lebih dari 300 pelancong masih hilang.

Baca juga:

Banjir Bandang Terjang Nepal, Jalan, Jembatan, dan Proyek Pembangkit Listrik Rusak



Lapisan Es Lenyap



Citra satelit sebelum dan sesudah bencana dari wilayah tersebut, yang diperoleh Planet Labs dan ditinjau Reuters, menunjukkan lereng pegunungan yang sebelumnya hijau dan subur kini tertutup material longsoran serta endapan berwarna cokelat.

“Telah dipastikan bahwa sebagian besar bagian ujung gletser runtuh dan memicu peristiwa tersebut. Amat mungkin itu membawa atau menyeret sejumlah besar batuan dan sedimen,” kata Vikram Gupta, ahli geologi teknik yang mengajar di Sikkim University, India.

Ilmuwan bumi yang juga profesor madya di University of Calgary, Dan Shugar, mengatakan citra tersebut tampaknya menunjukkan sejumlah besar salju telah mencair dalam 24 jam sebelum bencana.

“Beberapa gletser di lembah tersebut kemarin masih tertutup salju, sedangkan hari ini sebagian besar sudah menjadi es terbuka. Dengan kata lain, dan saya belum melihat data dari stasiun cuaca, mungkin cuacanya cukup hangat,” ujarnya.

Pada 2023, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut Pegunungan Nepal yang tertutup salju telah kehilangan hampir sepertiga lapisan esnya hanya dalam kurun waktu lebih dari 30 tahun akibat pemanasan global. PBB pada tahun yang sama menambahkan bahwa gletser di Nepal, yang berada di antara dua negara penghasil emisi karbon terbesar, India dan China, mencair 65 persen lebih cepat dalam satu dekade terakhir jika dibandingkan dengan dekade sebelumnya.

“Dari apa yang saya lihat dalam citra satelit Planet Labs pagi ini, bagian bawah sebuah gletser runtuh pada ketinggian sekitar 5.200 meter dan jatuh ke dasar lembah sekitar 1.200 meter di bawahnya,” kata Shugar.

Baca juga:

Banjir Bandang Nepal, 95 Orang Tewas dan 403 Orang masih Hilang




Proyek Pembangkit Listrik Bisa Jadi Salah Satu Faktor




Selain faktor gletser yang runtuh, Shugar mengatakan pembangunan juga bisa menjadi salah satu faktor. “Apakah perubahan iklim turut berperan ialah sesuatu yang tidak diragukan lagi akan kami selidiki dalam waktu dekat,” ujarnya.

Beberapa proyek pembangkit listrik tenaga air berada di wilayah yang terdampak paling parah di distrik pegunungan Rasuwa, yang memiliki populasi sekitar 50.000 jiwa. Otoritas Pengurangan Risiko Bencana dan Manajemen Bencana Nasional Nepal mengatakan banjir yang melibatkan gletser terjadi di Sungai Lhende akibat tanah longsor yang berlangsung sekitar 20 kilometer di timur laut sebuah pos perlintasan perbatasan Nepal-China.

Laporan awal juga menyebut gempa bumi di wilayah tersebut mungkin memicu longsoran salju dan menyebabkan banjir. Namun, Prakash Pokharel, seorang geolog dari otoritas tersebut, mengatakan masih belum jelas apakah gempa benar-benar menjadi pemicu tragedi. “Banjir bandang disebabkan longsoran es dan batuan di sisi Nepal,” kata Pokharel, yang telah meninjau citra Planet Labs.

International Centre for Integrated Mountain Development (ICIMOD) mengatakan banjir, tanah longsor, longsoran salju, dan kekeringan semakin sering terjadi dan semakin parah di kawasan Hindu Kush Himalaya. Perubahan yang semakin cepat terhadap kondisi air, tanah, dan udara di kawasan tersebut menjadi ancaman besar bagi masyarakat.

Kelompok tersebut mengatakan pada Rabu bahwa banjir bandang itu mengirimkan gelombang besar air, sedimen, dan bongkahan batu melalui sistem Sungai Bhote Koshi dan Trishuli.

ICIMOD menambahkan ketinggian air sungai di wilayah Galchhi, yang berada di bagian hilir, dilaporkan naik hingga 9 meter hanya dalam waktu 30 menit.(dwi)

Baca juga:

Ratusan Orang Hilang Termasuk 250 WNA Dalam Bencana Longsor di Nepal

#Nepal #Banjir Bandang #Bencana Alam
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Dunia
Ahli Iklim Sebut Gletser yang Runtuh Picu Banjir Bandang Mematikan di Nepal
Sebagian besar bagian ujung gletser runtuh dan memicu peristiwa tersebut.
Dwi Astarini - Kamis, 27 Agustus 2026
   Ahli Iklim Sebut Gletser yang Runtuh Picu Banjir Bandang Mematikan di Nepal
Indonesia
Ratusan Orang Hilang Termasuk 250 WNA Dalam Bencana Longsor di Nepal
Jumlah orang yang hilang setelah bencana longsor lumpur di dekat perlintasan perbatasan Gyirong (Jilong) antara China dan Nepal bertambah menjadi 558 orang
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 27 Agustus 2026
Ratusan Orang Hilang Termasuk 250 WNA Dalam Bencana Longsor di Nepal
Indonesia
Prabowo Buka Alasan Baru Hari ke-11 ke NTT, Biar Kunjungan Pejabat Tidak Ganggu Penanganan Bencana
Presiden Prabowo Subianto baru kunjungi NTT pada hari ke-11 pascagempa Flores agar penanganan darurat tidak terganggu seremonial pejabat pusat.
Wisnu Cipto - Kamis, 27 Agustus 2026
Prabowo Buka Alasan Baru Hari ke-11 ke NTT, Biar Kunjungan Pejabat Tidak Ganggu Penanganan Bencana
Dunia
Banjir Bandang Nepal, 95 Orang Tewas dan 403 Orang masih Hilang
Tibet melaporkan adanya banyak korban dan sejumlah orang hilang di wilayah Gyirong yang berbatasan dengan Nepal.
Dwi Astarini - Rabu, 26 Agustus 2026
 Banjir Bandang Nepal, 95 Orang Tewas dan 403 Orang masih Hilang
Dunia
Banjir Bandang Terjang Nepal, Jalan, Jembatan, dan Proyek Pembangkit Listrik Rusak
Tibet melaporkan adanya banyak korban dan sejumlah orang hilang di wilayah Gyirong yang berbatasan dengan Nepal setelah tanah longsor menghantam sebuah jalur penyeberangan antara China dan Nepal.
Dwi Astarini - Rabu, 26 Agustus 2026
Banjir Bandang Terjang Nepal, Jalan, Jembatan, dan Proyek Pembangkit Listrik Rusak
Indonesia
Presiden Prabowo Sentil Daerah soal Bencana: Gubernur dan Bupati Harus Punya Lumbung Cadangan
Prabowo mengatakan pemerintah daerah seharusnya sudah memiliki gudang dan persediaan makanan untuk menghadapi kondisi darurat.
Dwi Astarini - Rabu, 26 Agustus 2026
Presiden Prabowo Sentil Daerah soal Bencana: Gubernur dan Bupati Harus Punya Lumbung Cadangan
Indonesia
BNPB Ungkap Aktivitas Gempa Susulan di Flores Mulai Menurun, Masih Bisa Terjadi 3-4 Minggu
Gempa susulan di Flores kini mulai menurun. Namun, BNPB tetap mengingatkan warga agar tetap waspada.
Soffi Amira - Rabu, 26 Agustus 2026
BNPB Ungkap Aktivitas Gempa Susulan di Flores Mulai Menurun, Masih Bisa Terjadi 3-4 Minggu
Indonesia
110 Ribu Warga Masih Mengungsi akibat Gempa NTT, Ancaman Penyakit Mulai Mengintai
Sebanyak 110 ribu pengungsi gempa di NTT kini terancam terkena penyakit. Air bersih dan sanitasi pun terbatas.
Soffi Amira - Selasa, 25 Agustus 2026
110 Ribu Warga Masih Mengungsi akibat Gempa NTT, Ancaman Penyakit Mulai Mengintai
Indonesia
Langkah Pengiriman Logistik ke Daerah Bencana NTT dan Karhutla, Pemerintah Pastikan Warga Terdampak Tidak Berjalan Sendiri
Badan Nasional Penanggulangan Bencana mengumumkan hingga Minggu (23/8) total jumlah korban jiwa akibat gempa bumi yang menimpa Nusa Tenggara Timur (NTT) mencapai 91 jiwa.
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 24 Agustus 2026
Langkah Pengiriman Logistik ke Daerah Bencana NTT dan Karhutla, Pemerintah Pastikan Warga Terdampak Tidak Berjalan Sendiri
Indonesia
Korban Gempa NTT Kini Bertambah Jadi 83 Orang, 110.785 Warga Mengungsi
Korban gempa NTT kini masih terus bertambah. Kini, ada 83 orang meninggal dunia dan 110.875 jiwa mengungsi.
Soffi Amira - Sabtu, 22 Agustus 2026
Korban Gempa NTT Kini Bertambah Jadi 83 Orang, 110.785 Warga Mengungsi
Bagikan