MERAHPUTIH.COM — BANJIR bandang mematikan di dekat perbatasan Nepal dan Tibet pada Rabu (26/8) mungkin dipicu keruntuhan bagian bawah sebuah gletser. Hal itu kemudian jatuh ke dasar lembah ratusan meter di bawahnya. Demikian diungkap para ahli yang merujuk pada citra satelit dari Planet Labs.
Meski menyebut keruntuhan gletser, para ahli belum mengetahui secara pasti apa yang menyebabkan gletser tersebut runtuh. Namun, pejabat Nepal menyebut gempa bumi yang terjadi di wilayah tersebut beberapa menit sebelumnya sebagai salah satu kemungkinan penyebab.
Pihak berwenang di kedua sisi perbatasan khawatir jumlah korban akan jauh lebih tinggi daripada hampir 100 jenazah yang sejauh ini telah ditemukan. Pemerintah Nepal mengatakan lebih dari 300 pelancong masih hilang.
Baca juga:
Banjir Bandang Terjang Nepal, Jalan, Jembatan, dan Proyek Pembangkit Listrik Rusak
Lapisan Es Lenyap
Citra satelit sebelum dan sesudah bencana dari wilayah tersebut, yang diperoleh Planet Labs dan ditinjau Reuters, menunjukkan lereng pegunungan yang sebelumnya hijau dan subur kini tertutup material longsoran serta endapan berwarna cokelat.
“Telah dipastikan bahwa sebagian besar bagian ujung gletser runtuh dan memicu peristiwa tersebut. Amat mungkin itu membawa atau menyeret sejumlah besar batuan dan sedimen,” kata Vikram Gupta, ahli geologi teknik yang mengajar di Sikkim University, India.
Ilmuwan bumi yang juga profesor madya di University of Calgary, Dan Shugar, mengatakan citra tersebut tampaknya menunjukkan sejumlah besar salju telah mencair dalam 24 jam sebelum bencana.
“Beberapa gletser di lembah tersebut kemarin masih tertutup salju, sedangkan hari ini sebagian besar sudah menjadi es terbuka. Dengan kata lain, dan saya belum melihat data dari stasiun cuaca, mungkin cuacanya cukup hangat,” ujarnya.
Pada 2023, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut Pegunungan Nepal yang tertutup salju telah kehilangan hampir sepertiga lapisan esnya hanya dalam kurun waktu lebih dari 30 tahun akibat pemanasan global. PBB pada tahun yang sama menambahkan bahwa gletser di Nepal, yang berada di antara dua negara penghasil emisi karbon terbesar, India dan China, mencair 65 persen lebih cepat dalam satu dekade terakhir jika dibandingkan dengan dekade sebelumnya.
“Dari apa yang saya lihat dalam citra satelit Planet Labs pagi ini, bagian bawah sebuah gletser runtuh pada ketinggian sekitar 5.200 meter dan jatuh ke dasar lembah sekitar 1.200 meter di bawahnya,” kata Shugar.
Baca juga:
Banjir Bandang Nepal, 95 Orang Tewas dan 403 Orang masih Hilang
Proyek Pembangkit Listrik Bisa Jadi Salah Satu Faktor
Selain faktor gletser yang runtuh, Shugar mengatakan pembangunan juga bisa menjadi salah satu faktor. “Apakah perubahan iklim turut berperan ialah sesuatu yang tidak diragukan lagi akan kami selidiki dalam waktu dekat,” ujarnya.
Beberapa proyek pembangkit listrik tenaga air berada di wilayah yang terdampak paling parah di distrik pegunungan Rasuwa, yang memiliki populasi sekitar 50.000 jiwa. Otoritas Pengurangan Risiko Bencana dan Manajemen Bencana Nasional Nepal mengatakan banjir yang melibatkan gletser terjadi di Sungai Lhende akibat tanah longsor yang berlangsung sekitar 20 kilometer di timur laut sebuah pos perlintasan perbatasan Nepal-China.
Laporan awal juga menyebut gempa bumi di wilayah tersebut mungkin memicu longsoran salju dan menyebabkan banjir. Namun, Prakash Pokharel, seorang geolog dari otoritas tersebut, mengatakan masih belum jelas apakah gempa benar-benar menjadi pemicu tragedi. “Banjir bandang disebabkan longsoran es dan batuan di sisi Nepal,” kata Pokharel, yang telah meninjau citra Planet Labs.
International Centre for Integrated Mountain Development (ICIMOD) mengatakan banjir, tanah longsor, longsoran salju, dan kekeringan semakin sering terjadi dan semakin parah di kawasan Hindu Kush Himalaya. Perubahan yang semakin cepat terhadap kondisi air, tanah, dan udara di kawasan tersebut menjadi ancaman besar bagi masyarakat.
Kelompok tersebut mengatakan pada Rabu bahwa banjir bandang itu mengirimkan gelombang besar air, sedimen, dan bongkahan batu melalui sistem Sungai Bhote Koshi dan Trishuli.
ICIMOD menambahkan ketinggian air sungai di wilayah Galchhi, yang berada di bagian hilir, dilaporkan naik hingga 9 meter hanya dalam waktu 30 menit.(dwi)
Baca juga:
Ratusan Orang Hilang Termasuk 250 WNA Dalam Bencana Longsor di Nepal