Sains

2020 akan Ditutup dengan Tiga Fenomena Langit Langka

Ananda Dimas PrasetyaAnanda Dimas Prasetya - Kamis, 03 Desember 2020
2020 akan Ditutup dengan Tiga Fenomena Langit Langka

Ada tiga fenomena langka pada Desember 2020 yang tak boleh dilewatkan. (Foto: Pixabay/@darksouls1)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MENUTUP tahun 2020, semesta menganugerahkan kita dengan berbagai hadiah istimewa. Di penghujung tahun ini, para astronom mengumumkan tiga fenomena langit unik yang akan terjadi dalam waktu berdekatan. Bagi kamu para pengamat bintang, fenomena ini jelas tak boleh terlewat.

Baca juga:

Fakta Menarik Seputar Aurora, Cahaya Langit Indah di Kutub-Kutub Bumi

1. Hujan meteor paling berwarna, The Geminids

2020 akan Ditutup dengan Tiga Fenomena Langit Langka
The Geminids akan memiliki berbagai warna dan jatuh sebanyak 150 kali per jam. (Foto: Unsplash/@Austin Schmid)

Apakah kamu sudah siap menyaksikan 150 bintang jatuh warna-warni per jam? Sebab itulah yang mungkin terjadi di malam hari pada Minggu, 13 Desember 2020. Demikian laporan laman Travel and Leisure.

Berlangsung hingga Senin dini hari, planet kita akan melewati aliran debu dan puing-puing yang berada di tata surya. Fenomena tersebut akan memberikan hujan meteor paling fantastis tahun ini yang dijuluki sebagai The Geminids.

Kebanyakan hujan meteror terjadi karena komet, namun tidak demikian dengan Geminids. Peristiwa ini akan memunculkan hujan meteor warna-warni, seperti kuning, biru, merah, dan hijau.

Serunya lagi, Geminids bergerak lebih pelan saat melintasi langit malam sehingga memudahkanmu untuk melihatnya. Mari berharap agar langit cerah ya sehingga kita bisa meminta permohonan pada bintang jatuh.

Jika kelewatan, jangan khawatir. Soalnya akan ada hujan meteor besar lainnya dalam waktu relatif dekat. Setelah The Geminids, The Qudrantids akan terlihat dari bumi pada 2 Januari 2021. Kabarnya kamu bisa melihat 120 bintang jatuh per jam lho.

2. 'Planet berciuman' terbaik milenium ini

2020 akan Ditutup dengan Tiga Fenomena Langit Langka
Saturnus dan Jupiter akan berciuman karena untuk beberapa saat keduanya akan berdekatan. (Foto Pixabay/@Photography_Clerks)

Desember 2020 kamu dapat melihat planet berciuman. Sebab bulan ini merupakan titik balik matahari musim dingin yang sangat istimewa. Kutub utara bumi akan berada pada kemiringan maksimumnya dari matahari.

Biasanya hal ini tidak disertai dengan penglihatan apapun. Namun tepat setelah matahari terbenam pada Senin, 21 Desember, planet raksasa Jupiter dan Saturnus akan bersinar bersama hampir menyatu. Makanya hal ini disebut sebagai fenomena planet berciuman.

Mengapa bisa terjadi? Seperti yang kita tahu, semua planet bergerak mengelilingi matahari di bidang yang sama. Bedanya hanya terletak pada waktunya saja. Jika Jupiter mengorbit matahari setiap 12 tahun bumi, Saturunus membutuhkan waktu 29 tahun bumi.

Artinya, setiap 20 tahun Jupiter melewati Saturnus dari sudut pandang kita di bumi. Nah untuk sesaat kedua planet tersebut tampak sangat dekat. Ini disebut sebagai great conjunction.

Baca juga:

Fenomena 'Midnight Sun', Malam Serasa Siang di 5 Negara Ini

Faktanya tidak pernah ada great conjunction sedekat dan semudah ini untuk dilihat sejak tahun 1226. Oleh karena itu, konjungsi titik balik matahari hebat ini menjadi peristiwa sekali dalam 10 kali kehidupan.

Berdasarkan perhitungan, great conjunction berikutnya antara Jupiter dan Saturnus diperkirakan akan terjadi pada 5 November 2040.

Namun akan ada fenomena planet berciuman lain dalam waktu dekat. Mars akan lewat dekat Uranus pada Januari 2021. Dua bulan kemudian, Jupiter dan Merkurius juga diprediksi muncul berdekatan.

3. Gerhana matahari terbaik versi 2020

2020 akan Ditutup dengan Tiga Fenomena Langit Langka
Gerhana matahari total akan terjadi pada 14 Desember dan baru akan terlihat kembali setahun kemudian. (Foto: Pexels/@Drew Rae)

Gerhana matahari total akan berlangsung pada 14 Desember di selatan Chile dan Argentina. Tadinya fenomena ini disebut-sebut sebagai daya tarik wisata paling ditunggu tahun ini. Namun pandemi telah membatalkan rencana ribuan pemburu gerhana.

Meskipun begitu, ahli astronomi menyebutkan bahwa beberapa lokasi di kedua negara tersebut tetap akan dilintasi bayangan bulan selama dua menit dan sembilan detik.

Perjumpaan singkat ini akan menampilkan perasaan mistis saat matahari menghilang di belakang bulan sehingga membuat dunia menjadi gelap selama beberapa waktu. Tetapi hal itulah yang menjadi daya tarik tersendiri.

Gerhana matahari total ini menjadi semakin istimewa karena gerhana matahari total berikutnya baru muncul setahun kemudian. Tepatnya pada Sabtu, 4 Desember 2021 di Antartika. (sam)

Baca juga:

Air di Danau Ini Berubah Jadi Warna Merah Muda Dalam Semalam

#Fenomena Alam #Astronomi #Astrologi #Sains
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Samantha Samsuddin

Be the one who brings happiness
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Lifestyle
Arkeolog Temukan ‘Stonehenge Mini’, Amat Mungkin Prototipenya
Para arkeolog menyebut struktur itu mungkin merupakan prototipe dalam pengembangan Stonehenge.
Dwi Astarini - Jumat, 19 Juni 2026
Arkeolog Temukan ‘Stonehenge Mini’, Amat Mungkin Prototipenya
Indonesia
Puluhan Api Misterius Muncul di Sleman, Tim UGM Hingga BRIN Turun ke TKP
Fenomena api misterius lebih dari 90 kali muncul di Sleman. Pemkab tunggu hasil kajian tim UGM, BRIN, dan BPPTKG untuk tentukan langkah darurat.
Wisnu Cipto - Kamis, 04 Juni 2026
Puluhan Api Misterius Muncul di Sleman, Tim UGM Hingga BRIN Turun ke TKP
Lifestyle
Pemanasan Bumi makin Menjadi, Dua Spesies Ikonis Kutub Terancam Punah
Status baru tersebut dipublikasikan pada Rabu (8/4) oleh International Union for the Conservation of Nature (IUCN).
Dwi Astarini - Jumat, 10 April 2026
  Pemanasan Bumi makin Menjadi, Dua Spesies Ikonis Kutub Terancam Punah
Lifestyle
Artemis II Tuntaskan Perjalanan Mengitari Bulan, Lampaui Rekor Apollo 13
Bulan tampak memenuhi jendela kapsul mereka, saat para astronaut Artemis II melaju memasuki penerbangan melintasi bulan.
Dwi Astarini - Selasa, 07 April 2026
Artemis II Tuntaskan Perjalanan Mengitari Bulan, Lampaui Rekor Apollo 13
Dunia
Setelah Setengah Abad, Manusia Kembali ke Bulan lewat Misi Artemis II
Badan antariksa Amerika Serikat NASA mengumumkan misi antariksa Artemis II akan membawa kru manusia meluncur ke bulan.
Dwi Astarini - Kamis, 02 April 2026
Setelah Setengah Abad, Manusia Kembali ke Bulan lewat Misi Artemis II
Lifestyle
Arkeolog Temukan Kerangka yang Diduga Anggota Three Musketeers D'Artaganan
Kerangka itu ditemukan terkubur di sebuah makam di depan altar Gereja St Peter and Paul di Kota Maastricht, Belanda Selatan.
Dwi Astarini - Selasa, 31 Maret 2026
Arkeolog Temukan Kerangka yang Diduga Anggota Three Musketeers D'Artaganan
Lifestyle
Fenomena Langit April 2026: Ada 8 Peristiwa dari Pink Moon hingga Hujan Meteor!
Fenomena langit April 2026 lengkap: Pink Moon, hujan meteor, dan komet. Cek jadwal fenomena langit hari ini yang bisa diamati dari Indonesia.
ImanK - Minggu, 29 Maret 2026
Fenomena Langit April 2026: Ada 8 Peristiwa dari Pink Moon hingga Hujan Meteor!
Indonesia
Dikira Punah 6.000 Tahun Lalu, Possum Kecil dan Glider Muncul di Papua Barat
Penemuan seperti ini dikenal sebagai ‘lazarus taxon’, sebuah istilah yang terinspirasi dari tokoh dalam Alkitab yang dibangkitkan dari kematian.
Dwi Astarini - Jumat, 06 Maret 2026
 Dikira Punah 6.000 Tahun Lalu, Possum Kecil dan Glider Muncul di Papua Barat
Indonesia
Gerhana Bulan Total 3 Maret, BMKG: cuma Bisa Dilihat di Indonesia
Gerhana bulan total secara spesifik terjadi ketika posisi matahari, bumi, dan bulan berada dalam satu garis sejajar.
Dwi Astarini - Senin, 02 Maret 2026
Gerhana Bulan Total 3 Maret, BMKG: cuma Bisa Dilihat di Indonesia
Dunia
Kura-Kura Raksasa Kembali ke Pulau Galapagos, Pernah Punah Hampir 200 Tahun
Spesies asli Floreana, 'Chelonoidis niger niger', punah pada 1840-an karena pelaut mengambil mereka dari pulau tersebut untuk sumber makanan dalam pelayaran.
Dwi Astarini - Senin, 23 Februari 2026
Kura-Kura Raksasa Kembali ke Pulau Galapagos, Pernah Punah Hampir 200 Tahun
Bagikan