2 Orang Meninggal Akibat Banjir di Indramayu dan Subang
Korban banjir mengungsi di bawah Jembatan layang di Pamanukan, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Selasa (9/2/2021). (Foto: Antara)
MerahPutih.com - Kabupaten Subang, Jawa Barat dalam beberapa hari ini dilanda banjir. Bencana alam ini, sedikitnya menimpa 120 desa/kelurahan di 21 kecamatan dengan jumlah rumah terendam sebanyak 21.574 unit.
Sementara jumlah pengungsi sampai Rabu (10/1) mencapai 38.878 orang yang tersebar di masjid, kantor pemerintahan, tenda pengungsian, dan lain-lain.
"Bahkan banyak dari korban banjir itu yang mengungsi di kolong Jembatan Layang Pamanukan," ujar Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Subang Hidayat dikutip Antara, Rabu (10/2).
Baca Juga:
Google Luncurkan Fitur Peringatan Bencana Alam
Selain itu, banjir juga merendam tambak ikan seluas 3.093 hektare, sawah 19.021 hektare, dan jalan sepanjang 16 kilometer dengan kerugian diperkirakan sebesar Rp7,8 miliar.
Sementara itu, total terdapat 25.206 rumah yang tersebar di 22 Kecamatan di Kabupaten Indramayu yang terdampak banjir. Selain rumah, 2.096 hektar sawah warga juga ikut terendam.
Menurut laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Indramayu, 23.220 Warga dari Kecamatan Haurgeulis dan Kecamatan Losarang mengungsi ke tempat yang lebih aman. Dua orang dari Desa Karang Tumaritis, Kecamatan Haurgeulis dilaporkan meninggal dunia.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat sebagian besar wilayah Indonesia atau 96 persen dari 342 Zona Musim saat ini telah memasuki musim hujan. Puncak musim hujan akan terjadi pada Januari - Februari 2021 di sebagian Sumatera bagian selatan, sebagian besar Jawa termasuk DKI Jakarta.
Lalu, sebagian Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku, sebagian Papua Barat dan bagian selatan Papua. Berdasarkan kondisi tersebut, maka kewaspadaan akan potensi cuaca ekstrem harus terus ditingkatkan.
Analisis BMKG menunjukkan bahwa kondisi dinamika atmosfer yang tidak stabil dalam beberapa hari ke depan dapat meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah Indonesia.
Hal ini disebabkan oleh munculnya pusat tekanan rendah di sekitar wilayah Australia dan munculnya sirkulasi siklonik di sekitar wilayah utara Indonesia sehingga mempengaruhi pola arah dan kecepatan angin yang dapat meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar wilayah Indonesia.
Selain itu, kondisi labilitas atmosfer yang kuat di sebagian wilayah Indonesia dapat turut berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan awan hujan dalam skala lokal. (*)
Baca Juga:
Polri Bentuk Tim Siaga Bencana Antisipasi Bencana Alam
Bagikan
Alwan Ridha Ramdani
Berita Terkait
Jakarta Dikepung Banjir, Transjakarta Perpendek dan Alihkan Sejumlah Rute
Mensesneg Prasetyo Hadi: Banjir Jakarta Tak Hanya Dipicu Curah Hujan
Puluhan Ton Garam Ditabur di Langit untuk 'Pancing' Awan ke Arah Laut, Cegah Hujan Deras di Jabodetabek
Siswa Aceh Utara Belajar di Lumpur, DPR Desak Bantuan Perabotan
Update Banjir Jakarta: 45 RT dan 22 Ruas Jalan Tergenang Air
Hujan Deras Hari ini Sebabkan Banjir di Jakarta, 15 RT dan 20 Ruas Jalanan Tergenang
Jatinegara Lumpuh! Air 50 Cm Blokade Jalan Raya Bekasi Timur, Hanya Bus Transjakarta yang Berani Lewat
DPRD DKI Ingatkan Dinas SDA untuk Singkirkan Ego Sektoral atau Jakarta Tetap Jadi Langganan Banjir
12 RT dan 17 Ruas Jalan Jakarta Tergenang Banjir, Termasuk Kemang dan Daan Mogot
Banjir di Jakarta Meluas, 17 Ruas Jalan Terendam