Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Wiranto Minta Maaf kepada Masyarakat Maluku

Andika Pratama - Jumat, 04 Oktober 2019

MerahPutih.com - Menkopolhukam Wiranto meminta maaf atas pernyataanya yang menyebut bahwa pengungsi gempa di Ambon, Maluku adalah beban pemerintah. Menurut Wiranto apa yang diucapkannya itu tak bermaksud menyakiti hati masyarakat Maluku.

"Dalam kesempatan ini saya sampaikan bahwa kalau ada ucapan, ada kalimat yang saya sampaikan, apabila dirasa menggangu perasaan masyarakat di Maluku atau terdampak atau katakanlah dianggap menyakiti hati dan sebagainya, itu pasti bukan karena saya sengaja untuk menyakiti hati atau menyinggung perasaan masyarakat Maluku. Tapi apabila ada yang tersinggung, ada yang sakit hati, secara resmi, tulus, saya minta dimaafkan," kata Wiranto di Kantor Kemenkopolhukam, Jakarta Pusat, Jumat (4/10).

Baca Juga

Gempa Ambon Akibatkan 23 Orang Meninggal

Mantan Panglima TNI ini menambahkan, dirinya sudah mengumpulkan sejumlah Menteri dan Kepala lembaga negara untuk membahas masalah gempa di Maluku.

"Perintah presiden kita harus segera melakukan aksi untuk membantu meringankan beban para penderita yang terkena bencana gempa bumi di Maluku dan sekitarnya," jelas Wiranto.

Dari hasil koordinasi diantara para menteri dan kepala lembaga maka dapat dikirimkan bantuan berupa uang Rp 1 miliar lebih kemudian ditambah tenda-tenda, kebutuhan pengungsi, selimut, pakaian, generator, tenda-tenda untuk rumah sakit dan sebagainya, sudah dikirim ke sana.

Menko Polhukam Wiranto berbicara terkait situasi aksi para mahasiswa di Gedung DPR (Foto: antaranews)
Menko Polhukam Wiranto berbicara terkait situasi aksi para mahasiswa di Gedung DPR (Foto: antaranews)

"Juga menteri sosial sudah menyampaikan ke saya telah mengirimkan bantuan logistik untuk para pengungsi juga sudah menyampaikan bantuan-bantuan untuk yang meninggal 30 orang kali Rp 15 juta, dan bantuan-bantuan lain misalnya beras dan sebagainya yang sudah dikirimkan ke daerah bencana," jelas Wiranto.

Baca Juga

Satu Jembatan dan Bangunan Universitas Pattimura Ambon Rusak Akibat Gempa

Wiranto mengakui, dari laporan yang ia terima masih ada warga terdampak tinggal di hutan-hutan, tinggal di gunung. Mereka takut terhadap adanya tsunami atau pun gempa bumi susulan yang lebih dahsyat.

"Pemerintah daerah untuk kita memberikan sosialisasi penjelasan ke masyarakat untuk bisa kembali ke rumah masing-masing," jelas dia.

Sementara itu, perwakilan warga Maluku, Letjen (Purn) Suaidi Marasabessy menilai apa yang dilakukan Wiranto dengan meminta maaf kepada warga sebetulnya tak perlu dilakukan.

"Tetapi karena ada tanggapan dari masyarakat yang berpotensi mengeruhkan suasana sosial baik di Maluku maupun terhadap pemerintah pusat. Beliau dengan besar hati telah menyampaikan permohonan maaf apabila kalimat beliau sampaikan menyinggung perasaan beberapa pihak," jelas Suaidi.

Baca Juga

Ambon Diguncang Gempa 6,8 Magnitudo, Tidak Berpotensi Tsunami

Sebelumnya, pernyataan Wiranto yang menjadi polemik ini disampaikan pada Senin (30/9) lalu. Berikut pernyataan Wiranto kala itu

Dari laporan kepala BNPB sekitar 700 rumah yang rusak berat ringan dan sedang, sementara ini ada 23 orang yang meninggal dunia. Dan langkah pemerintah pusat, BNPB, menteri sosial, dan menteri kesehatan sudah langsung melakukan langkah-langkah untuk meringankan beban dari para korban, sudah dirancang adanya dana yang disalurkan apakah tentang kerugian jiwa, bantuan yang ada di pengungsian dan bantuan lain untuk merehabilitasi rumah mereka.

Tetapi saudara sekalian, dari laporan yang disampaikan memang banyak sekali pengungsi, tidak sebanding dengan kerusakan yang ada di daerah, mengapa? karena pengungsi ini ditakuti adanya informasi adanya gempa susulan yang lebih besar, ditakuti adanya tsunami akibat gempa, padahal tidak ada badan resmi manapun yang mengumumkan itu, yang memberikan informasi seperti itu,

Jadi ini berita-berita yang tidak dapat dipertanggungjawabkan yang menakuti masyarakat, sekarang sedang dilakukan sosialisasi bahwa tidak ada gempa susulan yang lebih besar lagi, tidak ada tsunami, diharapkan masyarakat bisa kembali ke tempat tinggal masing-masing untuk mengurangi besaran pengungsi, pengungsi terlalu besar ini sudah menjadi beban pemerintah baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan 6.184 unit rumah rusak dan 108.313 warga mengungsi akibat gempa dengan magnitudo 6,5 yang terjadi di Maluku, 26 September.

Baca Juga

Presiden Jokowi Kirim 2.000 Paket Sembako ke Ambon dan Wamena

"Data BNPB per 3 Oktober 2019, pukul 16.00 WIB mencatat rumah rusak 6.184 unit," kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Agus Wibowo

Rinciannya, rumah rusak berat mencapai 1.990 unit, rusak sedang 1.101 unit, dan rusak ringan 3.093 unit. Selain kerusakan di sektor pemukiman, jumlah fasilitas umum yang rusak sebanyak 56 unit.

Agus juga menyebut pengungsi mencapai 108.313 orang. Selain itu, korban meninggal dunia mencapai 34 orang, sedangkan luka-luka 149 orang. (Knu)

Baca Artikel Asli