Viral Guru Dikeroyok Murid, DPR Soroti Etika dan Karakter Pendidikan
Kamis, 15 Januari 2026 -
MerahPutih.com - Anggota Komisi X DPR RI Andi Muawiyah Ramly atau Amure menyesalkan keras insiden saling serang antara seorang guru dan sejumlah murid di sebuah sekolah yang belakangan viral di media sosial. Ia menilai peristiwa tersebut sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai luhur dunia pendidikan.
“Terlepas dari apa motifnya, saya sangat menyesalkan insiden saling serang, saling pukul, saling tonjok-tonjokan antara guru dan murid. Itu sama sekali bukan cerminan akhlak pendidikan yang baik. Tidak nampak adanya empati, akhlak, dan solidaritas yang seharusnya tercermin di dunia pendidikan kita,” tegas Amure di Jakarta, Kamis (15/1).
Menurutnya, sekolah sejatinya merupakan ruang aman untuk membangun karakter, bukan arena pelampiasan emosi atau konflik yang berujung kekerasan. Ketika guru dan murid terlibat benturan fisik, yang patut dipertanyakan bukan hanya perilaku individu, melainkan juga kegagalan sistem pendidikan dalam membangun relasi yang sehat dan beradab.
Pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu juga menyoroti etika penggunaan gadget dan media sosial dalam insiden tersebut. Ia menyayangkan tindakan pihak yang merekam dan menyebarluaskan peristiwa kekerasan di lingkungan sekolah.
“Satu lagi yang tidak kalah penting, jaga betul etika dalam menggunakan gadget. Saya tidak tahu apa motif perekam itu dan mengapa diposting ke media sosial. Kalau ada insiden seperti ini, jauh lebih baik diselesaikan dengan musyawarah, melalui mekanisme sekolah dan orang tua, bukan malah dipertontonkan ke publik,” ujarnya.
Baca juga:
Putus Rantai Kemiskinan, Prabowo Targetkan 500 Ribu Murid Masuk Sekolah Rakyat
Menurut Amure, budaya merekam dan memviralkan konflik justru berpotensi memperkeruh suasana, melukai psikologis semua pihak, serta memberikan contoh buruk bagi peserta didik dalam menyelesaikan masalah.
Ia menegaskan bahwa guru memiliki tanggung jawab moral sebagai teladan, sementara murid perlu dibina agar memiliki sikap hormat, empati, serta kemampuan mengelola emosi. Namun hal tersebut hanya dapat terwujud apabila ekosistem pendidikan mengedepankan dialog dan pembinaan, bukan kekerasan maupun sensasi viral.
“Ini menjadi alarm keras bagi kita semua. Pendidikan jangan hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga harus serius membangun karakter, kecerdasan emosional, dan etika digital. Jika ruang kelas kehilangan nilai kemanusiaan dan kebijaksanaan, maka yang kita wariskan adalah kegagalan,” katanya.
“Pendekatan represif semata tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah pembenahan sistem, penguatan nilai, dan kesadaran kolektif bahwa pendidikan adalah proses memanusiakan manusia,” pungkasnya.
Baca juga:
Guru Meradang Nominal TPG Tak Sama, Begini Penjelasan Kemendikdasmen
Sebagai informasi, sebuah video yang memperlihatkan seorang guru SMK di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Jambi, dikeroyok oleh sejumlah murid beredar luas dan menjadi perbincangan publik di media sosial sejak Selasa (13/1).
Terdapat dua versi kronologi kejadian. Dari keterangan para siswa, insiden bermula dari ucapan oknum guru yang dinilai merendahkan kondisi ekonomi murid. Sementara menurut versi sang guru, peristiwa tersebut dipicu oleh teguran terhadap siswa yang dianggap bersikap tidak sopan.
Akibat situasi yang memanas, guru bersangkutan mendatangi ruang kelas untuk meminta penjelasan. Namun emosi memuncak hingga guru tersebut secara refleks menampar salah satu murid, yang kemudian berujung pada aksi pengeroyokan. (Pon)