MerahPutih.com - Iran saat ini telah mempertahankan kendali efektif atas Selat Hormuz, yakni jalur air penting untuk pasokan energi ke negara-negara Asia, dengan mengizinkan kapal-kapal dari negara-negara yang disebut Iran sebagai "negara-negara sahabat."
Laporan terbaru menunjukkan, lalu lintas telah mulai pulih secara bertahap, meskipun volume transit masih jauh di bawah tingkat sebelum perang. Selain itu, membatasi pembayaran hanya dengan mata uang China yakni Yuan agar kapal bisa melitas selat.
Pembatasan ini, membuat harga minyak dunia melonjak tajam, dan adanya kecendrungan krisis minyak yang melanda dunia. Di AS, warga sudah mengeluhkan harga bahan bakar yang meningkat tajam, serta membuat jutaan orang turun ke jalan memprotes perang tersebut.
Kabar teranyar, Presiden AS Donald Trump menyatakan Iran memiliki waktu 48 jam untuk mencapai kesepakatan nuklir atau membuka kembali Selat Hormuz.
Baca juga:
Iran Lancarkan Serangan Gelombang ke-89 ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah
"Ingat ketika saya memberi Iran sepuluh hari untuk membuat kesepakatan atau membuka Selat Hormuz," kata Trump di platform media sosial miliknya, Truth Social, Sabtu (4/4).
"Waktu hampir habis — 48 jam sebelum neraka menimpa mereka," ujarnya.
Pada 26 Maret, Trump mengatakan ia memperpanjang tenggat negosiasi nuklir menjadi 10 hari setelah Iran mengizinkan 10 kapal tanker minyak berbendera Pakistan melewati Selat Hormuz.
Eskalasi di Timur Tengah telah meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026, yang menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.
Iran membalas dengan serangan drone dan rudal ke Israel serta fasilitas militer AS di Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk. (*)