Tingkat Pendapatan Kelas Menengah Bawah Terus Menurun
Kamis, 15 Januari 2026 -
MerahPutih.com - Kondisi kelas menengah Bawah saat ini cenderung tidak mendapat dukungan ekonomi yang berupa insentif langsung terhadap pendapatan.
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengajak pelaku sektor swasta untuk menambah lapangan kerja demi membantu kelas menengah agar bisa naik kelas.
“Yang sebenarnya menjadi pekerjaan rumah kita bersama di sektor swasta, dalam hal ini Kadin, bagaimana bisa membantu pemerintah dalam penyerapan tenaga kerja,” kata Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Aviliani dalam Global & Domestic Economic Outlook 2026 di Jakarta, Kamis.
Ia menyoroti masih terdapat kesenjangan dalam konsumsi rumah tangga, yang merupakan salah satu kontributor utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Baca juga:
Upah Dinilai Tak Cukup untuk Hidup di Jakarta, Bos Buruh: Kami Kerja tapi Tetap Nombok
Penopang utama konsumsi rumah tangga adalah kelompok atas dan menengah atas, dengan porsi sekitar 70 persen dari total konsumsi dalam produk domestik bruto (PDB).
Sementara kontribusi kelompok menengah bawah berkisar 17 persen. <eski secara persentase relatif rendah, namun jumlah kelompok menengah bawah mencapai 75 juta orang.
"Terlebih, mereka cenderung berhadapan dengan masalah tingkat pendapatan yang terus menurun," katanya.
Dalam konteks itu, sektor swasta bisa berkontribusi mendongkrak pendapatan kelas menengah bawah dengan menyerap mereka sebagai tenaga kerja.
“Agar 75 juta atau yang 17 persen tadi bisa naik kelas menjadi yang 70 persen,” tambahnya.
Dia berpendapat kelompok kelas menengah bawah perlu menjadi perhatian utama pemangku kebijakan. Meski masih ada masyarakat kelas bawah, yang diperkirakan mencapai 25 juta orang dengan kontribusi sekitar 13 persen PDB.
"Kelompok ini umumnya mendapat dukungan bantuan dari pemerintah, misalnya berupa Bantuan Langsung Tunai (BLT)," katanya.