Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Stok Energi Hanya 21 Hari, Pemerintah Didesak Amankan Pasokan Jelang Mudik

Dwi Astarini - Selasa, 03 Maret 2026

MERAHPUTIH.COM - BAYANG-BAYANG kelangkaan bahan bakar menghantui kesiapan arus mudik Lebaran mendatang. Anggota Komisi XII DPR RI Ratna Juwita Sari mendesak pemerintah segera mengambil langkah konkret setelah pengakuan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bahwa cadangan energi nasional saat ini hanya mampu bertahan selama 21 hari.

Ratna menegaskan pernyataan tersebut merupakan 'alarm keras' yang tidak boleh dipandang sebelah mata. Hal itu mengingat mobilitas masyarakat akan mencapai puncaknya dalam waktu dekat, ketahanan stok dan kelancaran distribusi BBM menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar.

“Jangan sampai secara nasional terlihat aman, tetapi di lapangan terjadi kelangkaan karena distribusi tidak optimal. Mudik akan mendongkrak konsumsi BBM secara signifikan, pemerintah harus menjamin tidak ada kendala pasokan,” tegas Ratna di Jakarta, Selasa (3/3).

Ia menyoroti risiko lonjakan permintaan pada komoditas vital seperti BBM, elpiji, hingga avtur. Menurutnya, tanpa antisipasi matang, ketimpangan antara stok pusat dan ketersediaan di daerah dapat memicu keresahan sosial, mulai dari antrean panjang di SPBU hingga kelangkaan gas melon.

Ratna mengingatkan gangguan pada sektor ini akan memberikan efek domino yang merusak stabilitas ekonomi nasional. “Ketahanan energi merupakan bagian dari ketahanan nasional. Momentum mudik tidak boleh terganggu hanya karena persoalan pasokan. Pemerintah harus hadir memberi kepastian dan rasa aman,” imbuhnya.

Baca juga:

DPR Sebut Stok BBM Aman, Kelangkaan di SPBU Swasta Hanya Terjadi di Jabodetabek



Data dari Reformasi Syndicate mempertegas urgensi peringatan tersebut. Saat ini, kebutuhan BBM nasional mencapai 1,5 hingga 1,6 juta barel per hari. Angka itu berbanding terbalik dengan realitas produksi minyak mentah dalam negeri yang hanya menyentuh kisaran 500 ribu hingga 600 ribu barel per hari.

Defisit yang mencapai lebih dari satu juta barel per hari ini membuat posisi Indonesia sangat bergantung pada impor dan ketersediaan cadangan strategis. Ratna menuntut transparansi pemerintah dalam mengelola sisa cadangan 21 hari tersebut agar tidak menjadi sekadar peringatan tanpa tindak lanjut.

“Kami membutuhkan langkah cepat, terukur, dan transparan. Ini bukan sekadar persoalan teknis, melainkan menyangkut hajat hidup orang banyak,” pungkasnya.(Pon)

Baca juga:

Menteri Bahlil Tetap Ingin SPBU Swasta Kolaborasi Dengan Pertamina Isi Stok BBM


Baca Artikel Asli