Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Dunia

Sidang Majelis Umum PBB Tolak Pengakuan Trump Atas Yerusalem

Eddy Flo - Jumat, 22 Desember 2017

MerahPutih.Com - Sekitar 128 dari 135 negara memilih mendukung resolusi Dewan Keamanan PBB terkait kebijakan Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Dalam sidang Majelis Umum PBB yang berlangsung di New York, Amerika Serikat Kamis (21/12) hanya 9 negara yang menolak resolusi PBB atas Yerusalem.

Hasil ini tentu saja menjadi pukulan telak bagi Donald Trump dan Benjamin Netanyahu, sebab dukungan negara-negara terhadap resolusi PBB untuk menganulir keputusan Trump atas Yerusalem akan memberikan implikasi politik yang luas terhadap kebijakan AS atas Israel.

Sidang Majelis Umum PBB berlangsung panas dan alot. Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB Nikki Haley sebagaimana dilansir Haaretz mengecam sejumlah negara yang mendukung resolusi PBB. Haley bahkan menyebut Majelis Umum PBB sebagai rumah kebohongan (house of lies).

Para delegasi sidang Majelis Umum PBB yang diprakarsai Turki dan Yaman sepakat menolak pengakuan AS atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel melalui mekanisme voting. Hasil umum voting menentang kebijakan Donald Trump begitu signifikan yakni 128 negara mendukung resolusi PBB, 9 negara menolak dan 35 negara abstain.

Israel yang hadir dalam sidang Majelis Umum meminta waktu untuk diberi kesempatan berbicara paling akhir sebelum proses voting berlangsung. Duta Besar Israel untuk PBB Danny Dannon mengecam negara-negara pendukung resolusi PBB sebagai negara boneka Palestina.

“Kalian telah dibohongi dan dibutakan oleh Palestina tak jauh bedanya dengan boneka. Rakyat Palestina paham bahwa resolusi hanyalah sebuah kecurangan. Saya yakin bahwa resolusi ini akan berakhir dalam kotak sampah sejarah, “amuk Dannon.

Sementara Utusan Palestina untuk PBB Riyad Mansour menegaskan bahwa warga Palestina tidak menerima pembiaran atas nama agama untuk membenarkan aneksasi atas wilayahnya.

“Pengakuan atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel oleh Pemerintahan Trump, tidak akan berpengaruh pada status Yerusalem sebagai kota suci, justru sangat berpengaruh pada peran Amerika Serikat sebagai mediator perdamaian, “ pungkas Riyad Mansour.(*)

Baca Artikel Asli