BISA tidak salat di tempat ibadah? Atau bagaimana cari makanan halal di Tiongkok? Itu dua kekhawatiran utama orangtua Randy, ketika sang anak mendapat beasiswa Chinese Government Scholarship (CGS) dari INTI.
Namun, semua kekhawatiran lenyap begitu pemuda asal Palu Sulawesi Tengah itu menjalani hari-hari di Herbin, Heilongjiang, sejak Agustus 2019. Dia malah mendapati banyak pandangan publik Indonesia yang ternyata salah kaprah.
Baca Juga:
Mahasiswa S2 Bidang Computer Science itu berbagi pandangannya, sekaligus menjawab pertanyaan teman-temannya di tanah air tentang kondisi nyata di negeri tirai bambu. Berikut sejumlah poin yang coba diluruskan Randy dari pengalamannya setahun merantau di sana:
1. Sosial Media
Tiongkok memiliki sistem jejaring sosial tersendiri. Sehingga, penduduk tidak memiliki sosial media selayaknya di Indonesia dan informasi yang beredar hanya sebatas di server Tiongkok. Alasannya, karena Tiongkok memiliki kerangka bisnis dan keamanan data tertentu. Karena minimnya informasi yang keluar, maka banyak muncul 'stereotip', sampai pada akhirnya kita harus datang dan melihat untuk menjawab stereotip tersebut.
2. Wilayah Tiongkok
Tiongkok merupakan negara terbesar ke-3 di dunia dengan 34 provinsi. Namun, menariknya adalah terdapat autonomous regions atau daerah otonom. Mereka juga memiliki pemerintah lokal serta memiliki hak legislatif yang lebih tinggi sebagai entitas otonom populasi kelompok etnis minoritas.
Provinsi ini dihuni suku etnis minoritas yang lebih tinggi dari suka Han (etnis terbesar Tiongkok), Provinsi tersebut adalah guangxi, Inner Mongolia, Ningxia, Xinjiang ,dan Tibet.
Salah satu bentuk kecil yang nyata menyiratkan bagaimana pemerintah merangkul kaum minoritas tersirat dalam pecahan mata uang Tiongkok. Ada tulisan yang mewakili suku-suku minoritas Tiongkok, termasuk Uyghur.
Uyghur hanyalah satu dari 56 suku yang ada di Tiongkok, dengan total populasi berkisar 10 juta jiwa dan konsentrasi tinggal mereka di provinsi xinjiang.
Sedangkan suku Hui adalah suku terbanyak ke 5 di Tiongkok yang merupakan suku dengan mayoritas muslim di Tiongkok yang menyebar di penjuru wilayah Tiongkok. Kebanyakan konsentrasi tinggal mereka provinsi seperti Ningxia dan Hainan. Jumlah penduduk suku Hui sebanyak 20 juta jiwa, dua kali lipat jumlah penduduk Jakarta.
Tahun 2014 tercatat ada 39.135 masjid di Tiongkok dan sekitar 24.000 masjid berada di Xinjiang. Dengan jumlah muslim 30–60 Juta jiwa dan itu lebih banyak dari jumlah muslim yang ada di Amerika Serikat.
Baca Juga:
6 Pemandangan Alam Terindah di Tiongkok
Yang menarik dari provinsi xinjiang adalah mayoritas penduduknya berbahasa uyghur/Turkish dan perawakannya lebih mendekati masyarakat negara tetangga seperti Tajikistan, khyrgistan dan beberapa kawasan asia tengah lainya.
Rendy juga mengungkapkan kenapa bukan bahasa mandarin yang digunakan di seluruh daratan Tiongkok. Walaupun mandarin menjadi bahasa resmi tetapi tidak semua rakyat Tiongkok bisa berbahasa standar mandarin, sekalipun menggunakan huruf Hanz yang sama.
Bahasa mandarin resmi ditutur oleh bagian utara Tiongkok. Bahkan jika penduduk utara berwisata ke selatan Tiongkok, belum tentu mereka dapat memahami Bahasa setempat. Maka dari itulah makanya pelajaran Mandarin standar digalakan di Tiongkok termasuk di daerah Xinjiang.
3. Muslim di Tiongkok
Berbeda dengan Indonesia, ideologi negara Tiongkok adalah Komunis. Sederhananya, negara ini Tidak mendukung syiar kegiatan keagamaan secara terbuka.
Tetapi negara memiliki regulasi kegitatan keagamaan, salah satunya menyediakan tempat khusus untuk berbibadah seperti kuil, gereja ataupun Masjid. Juga dilarang membangun rumah ibadah secara pribadi tanpa sepengetahuan pemerintah, Artinya ini berlaku kepada semua orang-orang Tiongkok yang mengaku beragama.
Faktanya, 87% diantara mereka tidak mempercayai adanya Tuhan. Sehingga, di Tiongkok tidak ada perang terhadap agama tertentu karena semua sama saja, yaitu taat kepada aturan dari pemerintah.
Setiap tahun sebagai pelajar, ia menerima penyampaian dari kampus secara berulang-ulang untuk tidak bekerja selama menempuh pendidikan dan menyebarakan ajaran agama apapun selain di tempat yang disediakan.
4. Makanan Halal
Sama halnya seperti di Indonesia tentu saja manusia bergerak, entah berbisnis ke daerah lain ataupun alasan lainya. Nah dari sini mereka yang beragama Islam banyak membangun bisnis makanan halal hampir diseluruh daratan Tiongkok.
Banyak restoran Halal atau kedai halal yang terdapat di Tiongkok, salah satunya di kota Harbin, rata-rata restoran ini dikelola oleh suku Uyghur dan Hui karena mereka juga memiliki cita rasa masakan tersendiri.
Ia berpesan bagi teman teman muslim yang ingin menuntut ilmu ke negara Tiongkok atau sekedar jalan-jalan tidak perlu khawatir mengenai makanan halal di Tiongkok.
Hampir di setiap kampus di Tiongkok terdapat kantin halal. Semua kampus di kota Harbin memiliki kantin halal yang disedikan. Restoran halal juga banyak ditemui dengan logo halal dan label halal bisa ditemui di beberapa produk kemasan.
Bagi muslim yang khawatir mengenai cara penyembelihan produk daging , disarankan membeli produk daging kemasan dari beberapa perusahaan seperti CP (walaupun tidak semua produk mereka bertuliskan Halal) atau grand farm (semua produk daging mereka halal) atau membeli langsung dan kebanyakan mereka berjualan di sekitaran masjid. (Randy/Tiongkok)
Baca Juga:
Di Tiongkok, Indonesia Masuk Tiga Besar Tujuan Wisata Kelas Atas