'Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas' Bertabur Penghargaan Internasional
Sabtu, 06 November 2021 -
SETELAH ikut hadir di beberapa festival internasional, film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas akan mendarat di bioskop Indonesia pada 2 Desember 2021. Meski demikian, Palari Films mengimbau bahwa film ini untuk penonton dewasa 18 tahun ke atas.
Film yang digarap oleh sutradara Edwin ini bertabur bintang, ada Marthino Lio, Reza Rahadian, Ratu Felisha, Ladya Cheryl, dan Sal Priadi. Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar telah membawa pulang hadiah utama Golden Leopard di Locarno Film Festival. Selain itu juga berkeliling festival internasional, seperti Toronto, Hamburg, Busan, London, Zagreb, Austria, Valladolid, Tokyo, Sao Paulo, hingga Cairo.
Baca juga:
5 Film Negeri Aing Mejeng di Busan International Film Festival 2021
“Penghargaan Golden Leopard ini semacam vaksin, booster, atau vitamin yang diharapkan mampu menguatkan kembali film Indonesia dan segenap jiwa raga pecinta film Indonesia di mana pun mereka berada,” kata Edwin.
Bahkan sebelum kembali ke Indonesia, film ini didaulat sebagai pembuka Singapore International Film Festival pada 25 November. Selain itu, Edwin juga akan mengadakan sesi diskusi bersama sutradara Singapura, Yeo Siew Hua yang pernah memenangkan Golden Leopard untuk filmnya.
Kemudian Director of Photography, Akiko Ashizawa, baru memenangi Best Cinematography di Seminci Valladolid International Film Festival 2021. Akiko juga dinominasikan di Asia Pacific Screen Awards untuk kategori Achievement in Cinematography.
Baca juga:
Selain merilis poster dan trailer versi Indonesia, Palari Films segera merilis lagu tema Bangun, Bajingan yang dibawakan oleh Ananda Badudu ft. Rubina, berkolaborasi dengan Lie Indra Perkasa dan Dave Lumenta.
Film ini diadaptasi dari novel Eka Kurniawan dan dibintangi oleh Marthino Lio (Ajo Kawir), Ladya Cheryl (Iteung), Reza Rahadian (Budi Baik), Ratu Felisha (Jelita), dan Sal Priadi (Tokek).
Film ini bercerita tentang Ajo Kawir, seorang jagoan yang tidak takut mati dan mengalami masalah impotensi.
Hasratnya yang selalu ingin bertarung didorong karena stigma maskulinitas. Semua berawal ketika Tokek mengajak Ajo mengintip perempuan yang dianiaya oleh dua penjahat.
Sejak itu kehidupan Ajo berubah. Ia menjadi impoten dan tumbuh sebagai remaja yang suka berkelahi. Sifatnya kemudian berubah ketika Ajo bertemu dengan perempuan tangguh bernama Iteung. (and)
Baca juga:
‘Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas’ Cetak Sejarah di Locarno