Sejuta Pesona, Segenggam Cerita dan Secercah Asa di Pulau Bangka
>Pulau Bangka>MerahPutih Travel- Garis pantai dengan pasir putih bersih menggambarkan lekuk-lekuk pulau Bangka dari ketinggian dalam pesawat, saya terus terpesona pada pandangan pertama melihat hamparan laut biru dengan ombak-ombak kecil yang berkejaran menuju lautan pasir putih di bawah saya.>Satu jam 10 menit dari Jakarta akhirnya pesawat mendarat di bandar udara Adipati Amir, Pangkal Pinang, Bangka Belitung. Matahari benar-benar tepat di atas kepala saya, hari ini Bangka sedang panas menyengat, tapi itu tidak menjadi pematah semangat saya untuk menikmati pesona pantai pasir putih dengan batu-batuan granit besar yang tadi saya lihat dari pesawat.
>Seorang kawan menyarankan agar berkunjung ke Pantai Parai jika ingin menikmati pesona pantai di Bangka, menurutnya Parai adalah primadona wisatawan domestik maupun luar negri yang berkunjung ke Bangka. Butuh waktu sekitar satu jam perjalanan menggendarai mobil dari pusat kota Pangkal Pinang menuju Parai yang berada di kabupaten Sungai Liat.>>Pesona Senja di Parai
>Ternyata benar, pesona pantai Parai begitu berkesan. Langit biru cerah berbinar diantara geriyak awan putih yang menari-nari seperti tumpah kedalam air laut yang biru, suara nyanyian ombak yg mengulung di sela-sela hembusan angin yang membelai-belai pipi saya cukup menjadi penawar letih selama perjalanan. Saya langsung merebahkan badan sambil terus menikmati nyanyian surgawi. Matahari sore Parai terasa hangat mengelus kulit saya, terlihat beberapa anak berkejaran tertawa riang menyusuri garis pantai, kemudian sura merekapun perlahan menghilag seperti ditelan senja. Suasan begitu tenang, tidak terlalu banyak pengunjung di pantai hari ini, matahari jingga terus jatuh perlahan, langit biru mulai memerah, kapal-kapal nelayanpun terlihat bersiap untuk berlayar, sungguh lukisan Tuhan yang menyejukan mata.>> Segenggam Cerita dari Muntok
>Selain sejuta pesona pantai di Bangka, ternyata pulau ini merekam segenggam cerita dari masa perjuangan bangsa Indonesia. Kota Muntok, itulah tujuan saya kali ini, disanalah Bung Karno bersama para pendiri bangsa lainnya seperti Agus Salim, Mohammad Roem, Ali Sastroamidjojo dan Bung Hatta diasingkan pasca agresi Belanda.>Dari sungai Liat, dibutuhkan waktu hingga tiga jam untuk sampai ke Muntok. Sepanjang perjalanan saya berkali-kali keluar masuk kebun sawit dan karet, saya harus berhati-hati karena banyak kendaraan besar pengangkut sawit dan karet menyusuri jalan ini. Sepanjang perjalanan saya di Bangka, saya tidak menemukan jalan raya yang rusak atau belum diaspal, perjalanan dari Pangkal Pinang menuju Sungai Liat, hingga dari Sungai Liat menuju Muntok sangat mulus, kualitas aspalnya bagus dan terawat, hanya saja belum ada penerangan yang memadai sepanjang jalan.>Gedung yang sudah terlihat rapuh itu dinamakan Wisma Ranggam, bentuk bangunannya mirip gedung SD inpres yang sudah usang, sepucuk bendera berkibar di atas tiang, tepat ditengah halaman Wisma tempat para pendiri bangsa diasingkan. Sayang saya tidak datang pada waktu yang tepat, penjaga Wisma melarang kami masuk karena Wisma sedang dalam perbaikan. Tapi saya tidak berkecil hati, karna menurut kawan yang menemani perjalanan saya kali ini, Wisma Ranggam bukanlah satu-satunya tempat pengasingan di Muntok.>Kamipun menuju puncak tertinggi di kota ini, puncak Manumbing, di sana masih ada jejak sejarah yang bisa saya hirup. Perjalanan menuju puncak terbilang ekstrim, hanya bisa dilewati oleh satu mobil. Jadi kami harus menunggu di pos penjaga jika ada mobil lain yang sedang turun. Dalam perjalanan berliku menuju puncak Manumbing, saya membayangkan bagaimana Bung Karno dan pejuang lainnya melewati tempat ini di waktu yang silam.>Udara ala puncak gunung saya hirup dalam-dalam, disana berdiri kokoh sebuah Rumah bernilai historis. Ketika pertama memasuki ruangannya, banyak terpajang foto-foto Bung Karno bersama kawan-kawannya, masuk keruang tengah terdapat meja rapat yang melingkar bundar cukup besar, mungkin di ruangan ini dulu Bung Karno memeras pikirannya, kaki saya melangkah ke ruangan selanjutnya, disanalah tempat bung Karno merebahkan lelahnya, ya saya berada di kamar tidur sang poklamator itu.>>Secercah Asa dari butir-butir Timah>Pesona Pantai dan cerita perjuangan menjadi pernak-pernik pulau ini, tapi dibalik itu semua ada ironi yang menusuk hati. Kekayaan alam yang dimiliki Bangka tidak melulu membuat masyarakatnya sejahtera, Bangka menjadi salah satu penyuplai Timah dunia, kualitas Timah pulau ini bahkan disebut-sebut menjadi yang terbaik. Tapi penggalian sumber daya alam ini dilakukan dengan tidak bijaksana. Walaupun sudah ada PT.Timah (Persero) milik negara, masih banyak orang-orang yang tidak bertanggung jawab melakukan penambangan timah secara ilegal, alhasil PT.Timah tidak dapat mengeksplor Timah secara optimal. Selain itu para penambang ilegal tidak melakukan reklamasi setelah pengeksploran timah, lubang yang mereka buat untuk mengeruk timah ditinggalkan begitu saja. Sehingga kerusakan terus terjadi, Pulau Bangka nan Indah menjadi berlubang-lubang akibat penambangan Timah yang tidak bijaksana.>Itulah Bangka dengan segala pesona, cerita dan segala kekayaannya, saya akan merindu untuk kembali menyongsong senja di pulau ini.