MerahPutih.com - Wadah Pegawai (WP) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggelar sayembara berhadiah sepeda bagi orang yang berhasil mengungkapkan penyiram air keras terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan.
"Sepeda ini akan terus ada di depan lobi KPK sampai pelaku penyiraman bang Novel ditemukan," kata Ketua WP KPK Yudi Purnomo Harahap, saat menyambut Novel kembali bekerja di gedung KPK Jakarta, Jumat (27/7).
Yudi mengungkapkan sepeda yang bakal diberikan tidak hanya satu, bisa sampai lebih dari lima tergantung berapa banyak pihak yang bisa membantu menuntaskan kasus Novel. Menurut dia, hadiah sepeda ini merupakan simbol WP KPK takkan pernah tinggal diam atas kasus teror penyiraman air keras yang dialami Novel.
Yudi menyampaikan hal itu saat acara penyambutan kedatangan Novel Baswedan yang kembali bekerja hari ini, setelah mengalami penyiraman air keras oleh dua orang pengendara motor pada 11 April 2017 seusai Salat Subuh di Masjid Al-Ihsan dekat rumahnya. Hingga saat ini pelaku penyerangan tersebut belum ditangkap.
"Untuk itu bang Novel dan teman-teman, sepeda ini kami taruh di sini sebagai simbol bahwa kita tidak akan pernah berhenti untuk mendukung pengungkapan kasus bang Novel, bahkan sampai 2019, 2020, dan seterusnya jadi ini adalah sepeda dari wadah pegawai KPK," tutur Yudi.
Dilansir Antara, Yudi pun menaruh sepeda jenis BMX warna hitam dan putih seharga Rp950 ribu yang dibeli dari satu toko di Pasar Jumat pada Kamis (26/7) di panggung kecil di depan lobi KPK. Pemberian sepeda itu mengingatkan dengan kebiasaan Presiden Joko Widodo memberikan sepeda kepada masyarakat yang dapat menjawab kuis saat menghadiri suatu acara di daerah.
Dalam kesempatan tersebut, Yudi juga membacakan surat terbuka kepada Presiden Joko Widodo menagih janji penuntasan kasus teror air keras Novel.
"Untuk itu kami tidak menuntut banyak, kami hanya menuntut negara hadir untuk Novel Baswedan dan pemberantasan korupsi melalui pengungkapan kasus Novel Baswedan. Apabila dirasa belum ada titik terang dari kerja lembaga yang ada saat ini, kami berharap sikap tegas Presiden membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) sekarang juga," tutur Yudi.
Novel sendiri juga langsung menyampaikan pesan kepada Presiden Jokowi ketika dirinya pertama kali kembali masuk kerja setelah mengalami teror penyiraman air keras. Menurut dia, hingga kini Polri tak mau mengungkap kasus penyiraman air keras kepada dirinya. Sejak teror yang menimpanya 11 April 2017 lalu sampai hari ini pelaku penyiraman air keras itu tak kunjung terungkap.
Untuk itu, Novel mendesak Presiden Jokowi selaku atasan Kapolri untuk bertindak mengungkap pelaku penyiraman air keras dengan membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF). "Oleh karena itu saya meminta kepada atasannya polisi (Presiden Joko Widodo) untuk mengungkap ini," tegas penyidik senior KPK itu. (Pon)