Merahputih.com - Saham-saham di Bursa Efek Indonesia mendadak berwarna merah membara pada perdagangan tengah pekan. Kepanikan melanda ruang-ruang siber para pemburu cuan seiring rontoknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Impian melihat indeks domestik terbang tinggi harus kandas seketika, berganti realita pahit berupa tekanan jual massal para pemodal global.
Baca juga:
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) BEI pada Rabu (24/6) sore resmi menutup perdagangan dengan penurunan tajam.
Indeks acuan nasional ini merosot 217,45 poin atau 3,56 persen menuju level 5.883,88. Kejatuhan ini menyeret kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 jatuh 20,26 poin atau 3,39 persen ke posisi 578,17.
“Pelemahan rupiah sempat menyentuh level Rp18.000 per dolar AS turut menekan market sentiment, memicu aksi profit taking,”
Pengamat Pasar Modal, Elandry Pratama.
Sentimen Global dan Ketidakpastian Fiskal
Elandry Pratama menjelaskan bahwa pelaku pasar global tengah menghindari aset berisiko di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury serta keperkasaan mata uang Negeri Paman Sam menjadi pemicu utama hengkangnya dana asing.
Dari dalam negeri, pelaku pasar modal rupanya masih meragukan efektivitas eksekusi program ekonomi bentukan pemerintah.

Status Indonesia pada ulasan Morgan Stanley Capital International (MSCI) belum mengalami perubahan positif, sehingga bursa domestik kehilangan daya dongkrak jangka pendek.
Kondisi pelik ini memaksa investor asing mengambil posisi wait and see sembari memantau stabilitas moneter nasional.
Data transaksi serta pergerakan pasar saham pada penutupan perdagangan sore ini:
-
Total Nilai Transaksi: Mencapai Rp15,13 triliun dari perdagangan 24,80 miliar lembar saham.
-
Aktivitas Perdagangan: Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 2.009.000 kali.
-
Perbandingan Saham: Sebanyak 646 saham mengalami penurunan, 103 saham naik, 210 saham stagnan.
-
Sektor Terpuruk: Sebelas sektor IDX-IC memerah, dipimpin sektor barang baku minus 6,26 persen, disusul sektor energi minus 5,83 persen.
-
Sektor Infrastruktur: Mengalami penurunan tajam sebesar 4,47 persen hingga akhir sesi dua.
Proyeksi Konsolidasi Pasar Saham
Fluktuasi tinggi diperkirakan masih membayangi pergerakan indeks saham domestik dalam beberapa waktu ke depan.
Pergerakan pasar kemungkinan besar berjalan mendatar (sideways) dengan kecenderungan melemah secara berhati-hati. Pelaku pasar dipastikan fokus mengamati realisasi kebijakan anggaran negara sepanjang semester II-2026.
Baca juga:
Rupiah Ngamuk Senin Pagi, Tendang Balik Dolar AS Sampai Keok ke Level 17 Ribuan
Kesempatan pembalikan arah menuju zona hijau tetap terbuka lebar asal stabilitas kurs rupiah dapat segera terwujud.
Di sisi lain, bursa saham regional Asia bergerak bervariasi sore ini. Indeks Nikkei Jepang melemah 0,88 persen, sementara indeks Shanghai China menguat 0,11 persen, bursa Kuala Lumpur Malaysia naik 0,13 persen, indeks Strait Times Singapura terapresiasi 0,20 persen.