Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Posisi Ketua Umum Golkar Selalu Bersinggungan dengan Kekuasaan

Eddy Flo - Sabtu, 16 Desember 2017

MerahPutih.Com - Rapat pleno DPP Partai Golkar pada Rabu, (13/12) lalu telah menunjuk Airlangga Hartarto sebagai Ketua Umum Partai Golkar untuk menggantikan Setya Novanto yang kini berstatus terdakwa dan mendekam di Rutan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Terpilihnya Airlangga Hartarto secara aklamasi sebagai Ketua Umum Partai Golkar pada rapat pleno kemarin cukup mengagetkan sejumlah pihak. Dia berhasil menyingkirkan kandidat lain dari kubu Setya Novanto.

Namun bagi Pengamat Politik Burhanuddin Muhtadi, terpilihnya Airlangga sebagai Ketua Umum Golkar merupakan hal yang wajar. Pasalnya, sejarah menunjukkan bahwa nakhoda partai beringin itu selalu bersinggungan dengan kekuasaan.

"Pak JK menang karena waktu itu wapres. Kemudian Pak Aburizal Bakrie karena waktu itu kuat mendukung SBY jilid II. Dan Setnov juga waktu itu karena dapat restu dari kekuasaan," ujarnya dalam sebuah diskusi di kawasan Mampang, Jakarta Selatan, Sabtu (16/12).

Menurut Burhanuddin, hal itu pula yang kini dialami Airlangga. Dia mendapatkan dukungan yang sangat kuat dari internal dan eksternal partai. Terlebih, Airlangga Hartarto saat ini menjabat sebagai Menteri Perindustrian sehingga dekat dengan pusara kekuasaan.

"Ini yang membuat lawannya ngeper duluan. Ibaratnya, melawan Airlangga sama saja denhan menabur garam ke laut," pungkas Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia ini.

Sebelumnya, rapat pleno DPP Partai Golkar memutuskan memilih Airlangga Hartarto sebagai Ketua Umum Golkar menggantikan Setya Novanto.

Ketua Harian Partai Golkar Nurdin Halid menyatakan, sejak berstatus terdakwa kasus korupsi proyek e-KTP, Setya Novanto dinonaktifkan sebagai Ketua Umum Golkar.

Selanjutnya, Golkar akan menggelar Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) dan Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) untuk mengukuhkan Airlangga sebagai ketua umum.(Pon)

Baca Artikel Asli