MerahPutih.com - Gempa tektonik M5,8 yang mengguncang Ternate, Maluku Utara pada Jumat pagi, akibat aktivitas subduksi. Sebelumnya kawasan Pulau Enggano Bengkulu di wilayah Barat Indonesia juga diguncang gempa M 5.4 sekitar pukul 05.50 WIB subuh tadi.
Memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat adanya aktivitas subduksi,
kata Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto
Dalam rilis resmi BMKG, Jumat (24/7), hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa bumi Ternate memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault).
Baca juga:
Gempa M 5.4 Pulau Enggano Bengkulu Masuk Kategori Dangkal Cuma 10 KM
Tingkat Guncangan dan Dampak
Berdasarkan peta guncangan (shakemap), gempa dirasakan dengan intensitas V MMI di Pulau Batang Dua, Kota Ternate. Getaran membuat warga panik berhamburan keluar rumah, plester dinding jatuh, dan sejumlah bangunan mengalami kerusakan ringan.
Di wilayah Kayoa, Halmahera Selatan, Kota Ternate, dan Kota Tondano, guncangan tercatat IV MMI, ditandai dengan pecahnya gerabah, jendela berderik, dan dinding berbunyi.
Sementara di Pulau Ternate, Kota Tidore, Jailolo, Bitung, getaran terasa nyata dengan intensitas III MMI, menyerupai getaran truk besar yang melintas. Dilansir Antara, BMKG memastikan belum ada aktivitas gempa susulan hingga saat ini.
Pemicu Gempa Ternate dan Bengkulu Sama
Gempa Ternate terjadi hanya beberapa jam setelah gempa M 5,4 mengguncang perairan barat daya Pulau Enggano, Bengkulu, pada Jumat subuh. Meski berbeda lokasi, keduanya sama-sama dipicu aktivitas tektonik di zona subduksi.
BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang, tidak terpengaruh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, serta menjauhi bangunan retak atau rusak.
Informasi resmi hanya bersumber dari BMKG yang disebarkan melalui kanal komunikasi resmi yang telah terverifikasi,
BMKG.
(*)