MerahPutih.com – Fenomena suara dentuman yang sempat menghebohkan warga Bandung Raya pada Sabtu (5/9) dini hari ternyata memunculkan perbedaan analisis antara dua lembaga negara.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan dentuman tersebut bukan berasal dari erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK), berbeda dengan pernyataan Badan Geologi Kementerian ESDM yang sebelumnya mengaitkan suara itu dengan aktivitas vulkanik di Selat Sunda.
Baca juga:
PVMBG Perkirakan Suara Dentuman di Jawa Barat Berkaitan dengan Erupsi Anak Krakatau
Analisis BMKG: Terlalu Jauh untuk Didengar
Kepala Stasiun Geofisika Bandung, Suaidi Ahadi mengakui aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau memang terdeteksi lewat citra satelit dan peningkatan aktivitas petir di sekitarnya.
Namun, lanjut dia, kecil kemungkinan suara erupsi itu merambat hingga Bandung yang berjarak sekitar 700 kilometer dari Anak Gunung Krakatau.
Suaidi menambahkan arah angin yang bertiup dari Timur ke Barat pada saat kejadian memperkecil peluang perambatan gelombang suara erupsi ke arah Bandung Raya
Tapi kalau di Kota Bandung, menurut saya terlalu jauh untuk mendengar aktivitas dari letusan Gunung Krakatau yang kejadiannya seperti kemarin,
Kepala Stasiun Geofisika Bandung, Suaidi Ahadi
Bukan Dipicu Aktivitas Kegempaan dan Faktor Cuaca
Menurut Suaidi, berdasarkan evaluasi menyeluruh terhadap data pemantauan kegempaan, aktivitas petir, kondisi cuaca, hingga magnet bumi dapat dipastikan potensi gempa bumi sebagai pemicu suara dentuman nihil.
Data BMKG juga menunjukkan kondisi cuaca secara umum terpantau cerah dengan pergerakan angin bertiup konsisten dari arah Timur ke Barat, yang mengindikasikan tidak adanya fenomena cuaca ekstrem lokal pemicu dentuman.
"BMKG juga memeriksa kondisi atmosfer serta aktivitas kelistrikan udara di wilayah Jawa Barat. Pemantauan Lightning Detector mencatat aktivitas petir di Bandung Raya berada pada intensitas relatif rendah dan tidak signifikan," tandasnya.

Simulasi perambatan suara frekuensinya rendah dari suara dentuman yang terdengar di Bandung Raya, diduga dari erupsi Gunung Anak Krakatau. ANTARA/HO-Badan Geologi
Versi Badan Geologi: Dentuman dari Anak Krakatau
Berbeda dengan BMKG, Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, menyebut dentuman yang terdengar di Bandung Raya diduga kuat berkaitan dengan erupsi Anak Krakatau.
“Erupsi menerus dalam durasi beberapa jam yang berasosiasi dengan erupsi lava air mancur merupakan fenomena yang umum terjadi. Suara dentuman dan getaran yang dirasakan masyarakat diduga kuat berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau pada waktu yang sama,” kata Lana, di Bandung.
Menurutnya, dentuman bisa terdengar hingga Bandung karena ekspansi cepat pelepasan gas vulkanik serta turbulensi aliran lava berkecepatan tinggi di konduit. Gelombang suara frekuensi rendah dapat merambat ratusan kilometer dan dibelokkan oleh lapisan atmosfer, angin, serta perbedaan suhu dan tekanan udara.
Gelombang suara dari Anak Krakatau dapat merambat jauh melalui atmosfer dan akhirnya terdengar di Bandung, meskipun beberapa wilayah pesisir yang lebih dekat belum tentu mendengarnya dengan jelas,
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria
(Asp)