Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Pakar Intelijen Duga Kerusuhan Diciptakan untuk Menggagalkan Pelantikan Jokowi

Andika Pratama - Kamis, 26 September 2019

MerahPutih.com - Intelijen dan Keamanan Stanislaus Riyanta meyakini aksi kerusuhan yang terjadi dua hari belakangan memang sengaja didesain. Pelaku disinyalir ingin membuat kekacauan jelang pelantikan Jokowi-Ma'ruf Amin pada 20 Oktober mendatang.

"Soal pilpres kemarin ada yang belum move on. Karena Jokowi sudah pasti dilantik. Kalau mereka menuntut UU RKUHP dibatalkan dan ada yang meminta Jokowi turun," kata Stanislaus kepada Merahputih.com di Jakarta, Kamis (26/9).

Baca Juga

Mahfud MD Desak Pemerintah Pertimbangkan Dampak Aksi Mahasiswa

Ia melanjutkan, masalah RUU KUHP dan UU KPK hanya batu loncatan dan kedok beberapa oknum melakukan aksi. Meskinada massa yang benar-benar tulus menyampaikan aspirasinya.

Pakar Intelijen dan Keamanan Stanislaus Riyanta

"Ada motif dalam kekacauan yang berhubunhan dengan residu Pilpres. Kalau demo kok malah menyerang polisi. Harus diusut tuntas siapa pelakunya. Ini dijanjikan uang Rp 40 ribu berati ada yang mendanai," imbuh Lulusan S2 Kajian Stratejik Intelijen UI ini.

Stanislaus juga berpendapat, aksi kericuhan yang melibatkan pelajar merupakan bagian dari rangkaian rusuh yang dilakukan pelaku.

"Ada pihak tertentu yang ingin melancarkan aksi mahasiswa tak berhasil karena mereka sudah cerdas. Karena gagal mahasiswa merrka menggerakkan pelajar. Pemanfaatan situasi dan diberikan materi propaganda," ungkap Stanislaus.

Baca Juga

Persimpangan Palmerah Mencekam, Polisi Terlibat Bentrok dengan Massa

Ia menilai, pelajar yang ikut aksi bahkan kericuhan hanyalah korban propaganda pelaku saja.

"Ketika ada yang menanyakan apa tuntutan mereka tak bisa jawab. Pelajar tak perlu menggelar aksi mengingat mereka masih anak-anak. Bahkan ada yang berusia dibawah 17 tahun. Mereka hanya korban dan diprivokasi untuk ke Jakarta," imbuh Stanislaus.

Sementara, terkait dengan adanya ambulance Pemprov DKI yang diduga membawa batu untuk logistik kerusuhan, Stanislaus berharap agar perkara ini diusut tuntas.

"Ada ambulance Pemprov ditangkap kan aneh, ini skenariobya apa. Diusut tuntas. Ada yang memanfaatkan hak hak ambulance. Mereka membawa batu dan bensin. Kalau pelakunya siapapun harus diusut," tutur Stanislaus.

Ia mendesak agar Polisi membongkar siapa aktor intelektual dibalik kericuhan ini. "Termasuk pendana yang membayar mereka," tutup Stanslaus.

Untuk diketahui, gelombang aksi mahasiswa turun jalan mahasiswa berlanjut pada Selasa kemarin, 24 September 2019 setelah sebelumnya mereka juga melakukan aksi pada Senin (23/9).

Baca Juga

Elemen Mahasiswa Tegaskan Pelaku Kerusuhan Bukan Anggotanya

Aksi bukan hanya dilakukan di daerah, tapi juga di Ibu Kota. Di Ibu Kota aksi mahasiswa digelar di depan Gedung DPR/MPR. Kericuhan berlanjut saat sejumlah anak-anak pelajar ikutan menggelar akai keesokan harinya. Namun, makin malam aksi mereka malah semakin brutal.

Akibat aksi ini, Jalan Tol Dalam Kota Cawang-Tomang sempat ditutup. Namun pada malam harinya aksi berubah jadi keributan. Sejumlah fasilitas negara dirusak dan dibakar. Semisal ada Pos Lantas Slipi, Pos Lantas depan Kemenpora dan Pos Polisi Pal Merah. Ada juga bus dan jeep milik TNI yang dibakar. (Knu)

Baca Artikel Asli