Merahputih.com - Dunia tengah dikejutkan dengan temuan kasus pertama virus Shamonda pada manusia yang terdeteksi menginfeksi seorang pria di Prancis hingga memicu investigasi mendalam terkait penyebab kematiannya.
Kehadiran virus Shamonda di Prancis ini memunculkan kekhawatiran baru karena patogen yang menular lewat gigitan serangga agas (midges) tersebut biasanya hanya menyerang hewan ternak.
Meskipun pasien tersebut dilaporkan memiliki riwayat penurunan sistem imun, otoritas kesehatan terus menyelidiki apakah paparan infeksi virus Shamonda menjadi pemicu utama perburukan kondisinya hingga meninggal dunia bulan ini.
Baca juga:
Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Buat kamu yang masih asing, virus Shamonda sebenarnya masuk dalam keluarga bunyavirus dan selama bertahun-tahun lebih dikenal sebagai "musuh" para peternak. Sebelum mencatatkan kasus pertama virus Shamonda pada manusia, patogen ini kerap memicu masalah kesehatan serius pada sapi, domba, hingga kambing.
European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC) mengonfirmasi bahwa temuan di Prancis menjadi rekor infeksi manusia pertama yang pernah diakui, memicu pertanyaan baru seputar potensi perluasan penularan virus Shamonda ke kelompok manusia.
Jejak Virus Shamonda: Dari Hewan Ternak ke Manusia

Menurut Badan Keamanan Pangan dan Kesehatan Austria, infeksi pada hewan ternak biasanya memunculkan berbagai komplikasi.
Beberapa dampak yang paling sering ditemukan antara lain:
-
Diare parah dan hilangnya nafsu makan.
-
Penurunan drastis pada produksi susu sapi.
-
Kasus keguguran (aborsi) pada hewan ternak bunting.
-
Kelainan bawaan pada anak sapi, domba, dan kambing yang baru lahir.
Di beberapa negara Eropa seperti Swiss dan Jerman, materi genetik virus ini bahkan sempat dilaporkan bersarang di otak kuda yang mati akibat gejala neurologis.
Terkait kasus manusia di Prancis, pihak ECDC belum mau mengambil kesimpulan terburu-buru mengingat kondisi pasien yang sedari awal sudah sakit parah.
Investigasi mengenai apakah virus tersebut menyebabkan atau berkontribusi pada kematian pasien, serta bagaimana infeksi itu didapat, saat ini masih terus berlangsung,
tegas perwakilan ECDC dalam laporan Guardians.
Pakar Medis: Ancaman Penularan Masih Sangat Rendah
Meski terdengar menyeramkan, kamu tidak perlu panik berlebihan. Direktur Institut Pandemi di University of Liverpool, Prof Tom Solomon, menekankan bahwa risiko ancaman wabah terhadap masyarakat umum sejauh ini terbilang sangat kecil.
"Virus Shamonda telah bersirkulasi pada hewan, terutama sapi, serta domba, kambing, kuda, dan alpaka selama bertahun-tahun, namun ini adalah infeksi pada manusia pertama yang dikenali. Hal ini menunjukkan bahwa penularan ke manusia sangatlah tidak biasa," ungkap Prof Solomon.
Meski komplikasi neurologis pada pasien di Prancis kemungkinan besar terkait dengan infeksi tersebut, satu kasus langka tidak bisa langsung disimpulkan sebagai ancaman masif bagi populasi luas.
Baca juga:
Harga Paket Cek Kesehatan dan Vaksin Haji 2027, Kemenkes Patok Paling Mahal Rp 2,15 Juta
Senada dengan hal itu, Dr Ben Brennan dari Pusat Penelitian Virus MRC-University of Glasgow memastikan belum ada bukti kuat yang mengarah pada penularan berkelanjutan antarmanusia (human-to-human transmission).
"Bagi kebanyakan orang, tidak ada alasan untuk mengubah aktivitas normal mereka atau mengambil tindakan pencegahan tambahan," pungkas Dr Brennan.
Meski begitu, pemantauan dan investigasi sains akan terus dilanjutkan untuk membedah lebih dalam karakteristik virus ini, termasuk apakah orang sehat bisa terinfeksi tanpa menunjukkan gejala sama sekali.