Kasus Pertama Virus Shamonda pada Manusia Ditemukan di Prancis, Ini Fakta Medisnya!

Angga Yudha PratamaAngga Yudha Pratama - 57 menit lalu
Kasus Pertama Virus Shamonda pada Manusia Ditemukan di Prancis, Ini Fakta Medisnya!

Ilustrasi virus. (Foto: Pexels)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

Merahputih.com - Dunia tengah dikejutkan dengan temuan kasus pertama virus Shamonda pada manusia yang terdeteksi menginfeksi seorang pria di Prancis hingga memicu investigasi mendalam terkait penyebab kematiannya.

Kehadiran virus Shamonda di Prancis ini memunculkan kekhawatiran baru karena patogen yang menular lewat gigitan serangga agas (midges) tersebut biasanya hanya menyerang hewan ternak.

Meskipun pasien tersebut dilaporkan memiliki riwayat penurunan sistem imun, otoritas kesehatan terus menyelidiki apakah paparan infeksi virus Shamonda menjadi pemicu utama perburukan kondisinya hingga meninggal dunia bulan ini.

Baca juga:

Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri

Buat kamu yang masih asing, virus Shamonda sebenarnya masuk dalam keluarga bunyavirus dan selama bertahun-tahun lebih dikenal sebagai "musuh" para peternak. Sebelum mencatatkan kasus pertama virus Shamonda pada manusia, patogen ini kerap memicu masalah kesehatan serius pada sapi, domba, hingga kambing.

European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC) mengonfirmasi bahwa temuan di Prancis menjadi rekor infeksi manusia pertama yang pernah diakui, memicu pertanyaan baru seputar potensi perluasan penularan virus Shamonda ke kelompok manusia.


Jejak Virus Shamonda: Dari Hewan Ternak ke Manusia

Ilustrasi

Menurut Badan Keamanan Pangan dan Kesehatan Austria, infeksi pada hewan ternak biasanya memunculkan berbagai komplikasi.

Beberapa dampak yang paling sering ditemukan antara lain:

  • Diare parah dan hilangnya nafsu makan.

  • Penurunan drastis pada produksi susu sapi.

  • Kasus keguguran (aborsi) pada hewan ternak bunting.

  • Kelainan bawaan pada anak sapi, domba, dan kambing yang baru lahir.

Di beberapa negara Eropa seperti Swiss dan Jerman, materi genetik virus ini bahkan sempat dilaporkan bersarang di otak kuda yang mati akibat gejala neurologis.

Terkait kasus manusia di Prancis, pihak ECDC belum mau mengambil kesimpulan terburu-buru mengingat kondisi pasien yang sedari awal sudah sakit parah.

Investigasi mengenai apakah virus tersebut menyebabkan atau berkontribusi pada kematian pasien, serta bagaimana infeksi itu didapat, saat ini masih terus berlangsung,

tegas perwakilan ECDC dalam laporan Guardians.


Pakar Medis: Ancaman Penularan Masih Sangat Rendah

Meski terdengar menyeramkan, kamu tidak perlu panik berlebihan. Direktur Institut Pandemi di University of Liverpool, Prof Tom Solomon, menekankan bahwa risiko ancaman wabah terhadap masyarakat umum sejauh ini terbilang sangat kecil.

"Virus Shamonda telah bersirkulasi pada hewan, terutama sapi, serta domba, kambing, kuda, dan alpaka selama bertahun-tahun, namun ini adalah infeksi pada manusia pertama yang dikenali. Hal ini menunjukkan bahwa penularan ke manusia sangatlah tidak biasa," ungkap Prof Solomon.

Meski komplikasi neurologis pada pasien di Prancis kemungkinan besar terkait dengan infeksi tersebut, satu kasus langka tidak bisa langsung disimpulkan sebagai ancaman masif bagi populasi luas.

Baca juga:

Harga Paket Cek Kesehatan dan Vaksin Haji 2027, Kemenkes Patok Paling Mahal Rp 2,15 Juta

Senada dengan hal itu, Dr Ben Brennan dari Pusat Penelitian Virus MRC-University of Glasgow memastikan belum ada bukti kuat yang mengarah pada penularan berkelanjutan antarmanusia (human-to-human transmission).

"Bagi kebanyakan orang, tidak ada alasan untuk mengubah aktivitas normal mereka atau mengambil tindakan pencegahan tambahan," pungkas Dr Brennan.

Meski begitu, pemantauan dan investigasi sains akan terus dilanjutkan untuk membedah lebih dalam karakteristik virus ini, termasuk apakah orang sehat bisa terinfeksi tanpa menunjukkan gejala sama sekali.

#Virus #Penyebaran Virus #Antivirus
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Angga Yudha Pratama

Seorang jurnalis profesional, reporter senior, editor berita, dan asisten redaktur yang telah berkarya di industri media online nasional selama lebih dari satu dekade. Selalu mengedepankan akurasi, objektivitas, dan kualitas informasi dalam setiap karyanya berbekal dari pengalaman langsung bertahun-tahun melakukan peliputan di lapangan, penulisan berita, penyuntingan artikel, hingga pengelolaan konten digital. Keahlian tersebut membuat pemahaman secara menyeluruh proses produksi konten digital modern, mulai dari pencarian data, wawancara narasumber, verifikasi fakta, penulisan artikel, optimasi SEO, editing naskah, hingga publikasi berita sesuai kode etik jurnalistik. Lebih spesifik, pemahaman mengenai strategi optimasi SEO dan Digital Content untuk mesin pencari juga menjadi fokus saat ini di tengah disrupsi media. Keahlian itu meliputi SEO writing, content writing, copywriting, keyword research, semantic SEO, search intent, on page SEO, optimasi, artikel google, struktur heading SEO, evergreen content, optimasi readability, meta description hingga internal linking.
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Dunia
Kasus Pertama Virus Shamonda pada Manusia Ditemukan di Prancis, Ini Fakta Medisnya!
Kasus perdana infeksi virus Shamonda pada manusia baru saja terdeteksi di Prancis dan memicu investigasi. Apakah patogen dari hewan ternak ini berbahaya bagi publik? Cek faktanya!
Angga Yudha Pratama - 57 menit lalu
Kasus Pertama Virus Shamonda pada Manusia Ditemukan di Prancis, Ini Fakta Medisnya!
Lifestyle
Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Berapa kali celupan yang dibutuhkan untuk memindahkan jumlah bakteri yang kira-kira sama banyaknya dengan ciuman berdurasi 10 detik?
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
 Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Dunia
Pekerja Lab di Rusia Meninggal Diduga Terinfeksi 'Pes', Hampir 200 Orang Dikarantina
Seorang pekerja laboratorium di Rusia meninggal dunia. Ia diduga terinfeksi virus Pes. Namun, penyebabnya masih misterius.
Soffi Amira - Senin, 05 Oktober 2026
Pekerja Lab di Rusia Meninggal Diduga Terinfeksi 'Pes', Hampir 200 Orang Dikarantina
Dunia
Burung Migrasi di Semenanjung Fleurieu Positif Virus H5, Australia Waspada Penuh
Australia kini meningkatkan koordinasi antarwilayah untuk mencegah penyebaran lebih luas virus flu burung lewat jalur migrasi burung
Wisnu Cipto - Rabu, 24 Juni 2026
Burung Migrasi di Semenanjung Fleurieu Positif Virus H5, Australia Waspada Penuh
Indonesia
[HOAKS atau FAKTA]: Hantavirus Adalah Rekayasa dan Bohongan
Beredar informasi yang menyebut Hantavirus adalah virus bohongan yang diambil dari bahasa Israel. Cek kebenaran informasinya.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 22 Mei 2026
[HOAKS atau FAKTA]: Hantavirus Adalah Rekayasa dan Bohongan
Indonesia
Tim Pengawas Haji Ingatkan Pemerintah Pantau Kesehatan Jemaah Terkait Hantavrus
Timwas DPR meminta jemaah untuk menjaga kebersihan, menggunakan masker di tempat umum, serta meningkatkan daya tahan tubuh.
Alwan Ridha Ramdani - Minggu, 17 Mei 2026
Tim Pengawas Haji Ingatkan Pemerintah Pantau Kesehatan Jemaah Terkait Hantavrus
Indonesia
Ancaman Virus Hanta Mengintai Wilayah Urban, DPR RI Desak Penguatan Edukasi
Meskipun Indonesia sedang gencar membangun infrastruktur seperti jalan tol dan gedung pencakar langit, risiko ancaman virus yang dibawa oleh tikus (rodensia) ini justru semakin tinggi
Angga Yudha Pratama - Jumat, 15 Mei 2026
Ancaman Virus Hanta Mengintai Wilayah Urban, DPR RI Desak Penguatan Edukasi
Lifestyle
Kasus Hantavirus Terdeteksi di Indonesia, Kemenkes Minta Masyarakat Tetap Waspada
Kementerian Kesehatan memperketat kewaspadaan terhadap penyebaran hantavirus. Masyarakat pun diimbau untuk mendeteksi dini.
Soffi Amira - Rabu, 13 Mei 2026
Kasus Hantavirus Terdeteksi di Indonesia, Kemenkes Minta Masyarakat Tetap Waspada
Indonesia
Bandara Soetta Antisipasi Penyebaran Hantavirus, Penumpang dari 4 Negara Diawasi
Bandara Internasional Soekarno-Hatta kini menyiapkan langkah untuk mengantisipasi hantavirus. Ada empat negara yang dilakukan pengawasan.
Soffi Amira - Rabu, 13 Mei 2026
Bandara Soetta Antisipasi Penyebaran Hantavirus, Penumpang dari 4 Negara Diawasi
Indonesia
BRIN Jelaskan Cara Penularan hingga Pencegahan Hantavirus, Gejalanya Mirip Flu
BRIN mengimbau masyarakat untuk memahami penularan hantavirus. Virus ini berasal dari hewan pengerat atau tikus liar.
Soffi Amira - Rabu, 13 Mei 2026
BRIN Jelaskan Cara Penularan hingga Pencegahan Hantavirus, Gejalanya Mirip Flu
Bagikan