MerahPutih.com - Sebanyak ratusan orang telah dikarantina di Siberia, Rusia, setelah seorang petugas laboratorium meninggal dunia akibat dugaan penyakit 'pes.'
Seorang pegawai di Institut Penelitian Anti-Pes di Shelekhov, Darya Shipilova, terpapar bakteri tersebut setelah secara tidak sengaja memecahkan tabung reaksi berisi patogen ketika sedang mengambil sampel, menurut laporan Kyiv Independent.
Ia dirawat di rumah sakit pada 29 September 2026 lalu karena mengalami pneumonia parah yang tidak diketahui penyebabnya. Ia juga dipasangi ventilator, tetapi meninggal dunia tak lama kemudian.
Baca juga:
Mengenal Hantavirus, Penyakit Langka nan Mematikan yang Ditularkan Tikus
Sejumlah Rumah Sakit di Irkutsk Ditutup
Media independen Rusia, Lyudi Baikal, melaporkan bahwa sejumlah rumah sakit di kota Irkutsk telah ditutup untuk menjalani karantina selama tiga minggu.
Surat kabar tersebut melaporkan, setidaknya 197 orang yang diduga melakukan kontak langsung maupun tidak langsung dengan teknisi itu telah ditempatkan dalam isolasi medis. Lebih dari 100 orang saat ini sedang dipantau di bangsal rumah sakit.
Pada saat yang sama, otoritas setempat telah menerapkan langkah-langkah karantina ketat di seluruh wilayah tersebut, yang mencakup Rumah Sakit Distrik Shelekhov, fasilitas bersalin di dekatnya, serta pabrik aluminium setempat.
Gubernur Irkutsk, Igor Kobzev, mengimbau warga untuk tetap tenang. Ia bahkan menulis di Telegram, jika komisi penanggulangan epidemi telah mengadakan pertemuan untuk membahas dugaan kasus infeksi yang sangat berbahaya.
Baca juga:
Awas Musim Flu 2026 Mendekat! Cek Jadwal Vaksin dan Strain Virus yang Wajib Diwaspadai
Meskipun pernyataan publiknya tidak menyinggung kematian pekerja tersebut, Kobzev menyatakan bahwa semua orang yang teridentifikasi kontak erat tidak menunjukkan gejala dan telah dinyatakan negatif dalam tes.
Aparat penegak hukum Rusia dilaporkan telah memulai penyelidikan pidana terkait dugaan pelanggaran keselamatan dan kesehatan kerja, yang mengakibatkan kematian seorang pekerja laboratorium.
Mantan kepala Rospotrebnadzor, Gennady Onishchenko, meremehkan risiko tersebut dalam komentarnya kepada kantor berita negara TASS.
Ia menyatakan bahwa infeksi di wilayah Irkutsk, kemungkinan besar bukan pes. Namun, seandainya pun terkonfirmasi, penyakit ini tidak akan menyebar.
Onishchenko menambahkan, penularan secara luas kecil kemungkinannya terjadi. Hal itu seraya mencatat bahwa suhu udara yang lebih dingin pada musim ini akan membantu membendung potensi penyebaran.
Penyebab Meninggalnya Pekerja Lab di Rusia Masih Misterius
Sementara itu, pemimpin Republik Buryatia, Alexey Tsydenov, menyatakan bahwa wanita tersebut meninggal akibat penyakit pes. Namun, ia mengubah unggahannya dengan menyebut bahwa ia "kemungkinan" terinfeksi penyakit tersebut.
Dikarenakan fasilitas tersebut menangani patogen berbahaya, insiden ini memicu spekulasi bahwa penyakit yang dimaksud adalah pes pneumonik, yakni salah satu dari tiga varian yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis.
Berbeda dengan pes bubonik dan septisemik, yang umumnya menular ke manusia melalui gigitan kutu atau kontak dengan hewan yang terinfeksi, pes pneumonik menyerang paru-paru secara langsung. Kemudian, dapat menyebar dengan mudah melalui percikan pernapasan di udara.
Baca juga:
Wabah Ebola Merebak di Kongo, 2.476 Orang Meninggal Dalam 20 Hari
Menurut pedoman dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS, pasien yang terinfeksi pes pneumonik biasanya mengalami demam, sakit kepala, dan kelemahan fisik yang muncul secara cepat.
Hal itu juga disertai gangguan pernapasan parah, seperti sesak napas, nyeri dada, batuk, serta keluarnya lendir yang encer atau bercampur darah.
WHO Sebut Virus 'Pes' Masih Bisa Ditangani
Meskipun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa penyakit ini memiliki tingkat kematian yang tinggi jika tidak ditangani, tetapi masih bisa ditangani melalui pemberian antibiotik sejak awal dan penerapan langkah-langkah pengendalian infeksi standar.
Seorang juru bicara Departemen Luar Negeri AS menyatakan, pihaknya mengetahui adanya kemungkinan kematian akibat penyakit tersebut di Rusia.
Kami memantau situasi ini secara saksama bersama CDC dan mitra antarlembaga kami lainnya.
ujar juru bicara tersebut
"Banyak perincian yang belum terkonfirmasi. Kami mendesak pihak berwenang Rusia untuk segera dan secara terbuka membagikan informasi yang akurat," tambahnya. (sof)