MerahPutih.com - Kepedulian terhadap lingkungan tidak selalu harus dimulai dari gerakan besar. Di Jakarta, sekelompok orang memilih melakukan aksi sederhana dengan menyusuri jalan dan mencabut paku-paku yang tertancap di batang pohon.
Aksi tersebut dilakukan Nail Hunter, sebuah gerakan yang berangkat dari keresahan terhadap kebiasaan memasang spanduk dan banner dengan cara memakukannya ke pohon. Dalam kegiatan bersama Tim Merah Putih di Taman Viaduk Jatinegara Timur, Kamis (22/10) sore, puluhan paku berhasil dicabut dari empat pohon di kawasan tersebut.
Benda-benda kecil yang terkumpul itu menjadi pengingat bahwa persoalan lingkungan terkadang tersembunyi di balik kebiasaan yang dianggap sepele.
Nail Hunter digagas oleh Rachmad Anwar Nuris, dosen Desain Komunikasi Visual di Trisakti School of Multimedia, bersama Yulian Darmawan, seorang pengajar kursus. Gerakan ini mulai berjalan sejak Mei 2026 dan telah berlangsung lebih dari lima bulan.
Awalnya, keduanya merasa resah melihat polusi visual akibat banner dan spanduk liar yang dipasang di sepanjang jalan. Namun, setelah berupaya mencopot materi promosi tersebut, mereka menemukan persoalan lain yang kerap luput dari perhatian.
Kita kan resah ya sama banner-banner atau polusi visual yang ditempel di pohon-pohon pinggir jalan. Kemudian kita coba cabut-cabutin, tapi habis itu ada ini ya, setelah kita amati lebih detail, ada sisa paku yang menancap ya di pohon-pohon itu,
Penggagas Nail Hunter, Rachmad Anwar Nuris.
Paku yang tertinggal di batang pohon berpotensi melukai jaringan pohon. Dari temuan tersebut, perhatian Nail Hunter kemudian beralih pada upaya membersihkan sisa paku sekaligus meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pohon di ruang publik.
Menyusuri Jalan untuk Menemukan Paku di Pohon
Cara kerja Nail Hunter terbilang sederhana. Para anggotanya mengamati pohon-pohon yang dijumpai di sepanjang rute perjalanan sehari-hari. Ketika menemukan paku yang tertancap, mereka menandai lokasinya untuk kemudian didatangi dan dibersihkan.
Dengan pola tersebut, kegiatan berburu paku tidak selalu membutuhkan perjalanan khusus atau agenda besar. Jalan yang biasa dilewati untuk beraktivitas pun dapat menjadi ruang untuk melakukan aksi kepedulian terhadap lingkungan.
Namun, prosesnya tidak berhenti setelah paku berhasil dicabut. Nail Hunter juga mengoleskan salep kambium pada bekas tancapan untuk membantu melindungi bagian pohon yang terluka dari risiko masuknya jamur atau bakteri.
Prosedurnya kita pertama pilih dulu ya, ada beberapa titik kan, beberapa pohon yang ada beberapa pakunya, terus kita cabut. Setelah kita cabut, kita kasih juga salep kambium. Nah, itu tujuannya supaya jamur atau bakteri tidak masuk ke dalam bekas paku yang kita cabut itu. Itu tujuannya,
Yulian Darmawan.
Tahapan tersebut menunjukkan bahwa aksi Nail Hunter tidak sekadar membersihkan batang pohon dari benda logam. Mereka juga memberikan perhatian pada bekas luka yang ditinggalkan paku, meskipun pemulihan pohon tetap bergantung pada kondisi dan tingkat kerusakan jaringannya.
Baca juga:
GRID Cardio Rush Tanam 1.500 Bibit Pohon di Gunung Gede Pangrango, ini Dampaknya bagi Lingkungan
Kumpulkan 10 Kilogram Paku, Hasil Penjualan untuk Bibit Pohon
Selama menjalankan kegiatan, Nail Hunter telah mengumpulkan sekitar 10 kilogram paku. Jumlah tersebut menggambarkan banyaknya benda logam yang tertinggal di batang pohon akibat kebiasaan memasang spanduk dan banner.
Paku-paku yang terkumpul tidak akan langsung dibuang. Nail Hunter berencana mengumpulkannya hingga mencapai satu galon penuh sebelum menjualnya kepada pengepul berdasarkan berat.
Uang hasil penjualan tersebut nantinya akan digunakan untuk membeli bibit pohon yang akan ditanam kembali.
“Target kita nanti ketika sudah penuh satu galon, langsung akan kita kiloin dan uangnya nanti akan kita belikan bibit pohon untuk kita tanamin lagi nanti,” jelas Noeris.
Rencana tersebut menjadi bagian dari upaya Nail Hunter mengubah benda yang berpotensi merugikan lingkungan menjadi sumber dana untuk mendukung penghijauan.
Berburu Paku Dua hingga Lima Kali Seminggu
Di tengah kesibukan mengajar, para penggagas Nail Hunter berusaha menjaga keberlangsungan kegiatan mereka. Aksi berburu paku dilakukan secara fleksibel, sekitar dua hingga lima kali dalam seminggu, menyesuaikan waktu luang yang tersedia.
Kegiatan tersebut bahkan pernah berlangsung hingga tengah malam.
Konsistensi ini menjadi salah satu ciri gerakan Nail Hunter. Aksi mereka tidak selalu bergantung pada acara khusus atau kegiatan yang melibatkan banyak orang. Terkadang, kegiatan dilakukan di sela-sela kesibukan, ketika ada waktu untuk menyusuri jalan dan memeriksa batang pohon yang membutuhkan perhatian.
Respons masyarakat di dunia maya juga cukup positif. Banyak warganet menyampaikan ketertarikan untuk ikut terlibat dalam kegiatan tersebut.
Menanggapi antusiasme itu, Nail Hunter berencana membuat saluran WhatsApp untuk membagikan informasi mengenai jadwal berburu paku. Melalui saluran tersebut, masyarakat diharapkan dapat mengetahui informasi kegiatan dan berpartisipasi secara langsung.
Partisipasi masyarakat dinilai penting karena persoalan paku yang tertancap di pohon tidak terbatas pada satu kawasan. Dengan keterlibatan lebih banyak orang, pohon-pohon yang membutuhkan perhatian di lingkungan masing-masing dapat lebih mudah diidentifikasi.
Baca juga:
PT Amerta Jiwa Indonesia Tanam 1.500 Bibit Pohon di Gunung Pangrango, Wujudkan Misi Pelestarian Alam
Nail Hunter Mulai Jalin Interaksi dengan Pemerintah
Selain mengajak masyarakat terlibat, Nail Hunter juga mulai menjalin interaksi dengan pihak pemerintah. Mereka pernah diundang oleh Dinas Taman Hutan Kota Jakarta Pusat untuk memberikan edukasi dalam acara Flora Fauna di Lapangan Banteng.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu kesempatan untuk memperkenalkan persoalan paku yang tertancap di batang pohon kepada masyarakat dengan jangkauan lebih luas.
Meski demikian, kegiatan lapangan bersama pemerintah belum dapat berjalan secara berkelanjutan. Salah satu kendalanya adalah perbedaan jadwal kegiatan.
Agenda dinas umumnya berlangsung pada Jumat, sedangkan para penggagas Nail Hunter memiliki jadwal mengajar yang cukup padat pada hari tersebut.
Keterbatasan waktu menjadi tantangan bagi gerakan yang berusaha berkembang di tengah kesibukan sehari-hari. Namun, Nail Hunter tetap berupaya melanjutkan kegiatannya untuk merawat pohon-pohon di ruang publik.
Aksi di Taman Viaduk Jatinegara Timur memperlihatkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari persoalan sederhana. Berawal dari keresahan terhadap spanduk liar, Nail Hunter menemukan paku-paku yang tertinggal di batang pohon dan menjadikannya sasaran aksi.
Di tengah kota yang dipenuhi bangunan, kendaraan, dan beragam informasi visual, gerakan ini mengingatkan bahwa merawat ruang hijau bukan hanya tentang menanam pohon baru, tetapi juga menjaga pohon yang telah tumbuh agar tidak mengalami kerusakan akibat aktivitas manusia. (Far)