Pakar Hukum UGM: Negara Harus Kontrol Harga Tanah
Sabtu, 14 Oktober 2017 -
MerahPutih.com - Pemerintah dinilai perlu untuk segera mengintervensi penggaturan harga tanah. Pakar Hukum Agraria UGM Nur Hasan Ismail menilai, negara perlu mengontrol harga tanah yang kian melambung tinggi.
Menurut dia, tanah kini menjadi barang komoditas mahal. Hal tersebut menyebabakan akses kepemilikan tanah hanya dimiliki segelintir pihak bermodal besar. Namun, di lain sisi mahalnya harga tanah menutup akses masyarakat miskin untuk memilikinya.
"Ketimpangan tanah di perkotaan cukup memprihatinkan. Orang yang tak memiliki modal akhirnya hidup di pinggir kali atau pinggir rel karena tidak memiliki tanah," kata Nur Hasan dalam keterangan pers di Yogyakarta, Sabtu (14/10).
Menurut Guru Besar Fakultas Hukum UGM itu, fenomena melambungnya harga tanah di perkotaan sudah memprihatinkan. Sampai-sampai menutup akses masyrakat kecil untuk tinggal di perkotaan. Mudahnya berpindah kepemilikan tanah disebabkan minimnya intervensi pemerintah dalam mengatur harga tanah.
"Harga tanah tidak bisa dikontrol, seolah negara tidak bisa dikontrol. Negara paling liberal sekalipun, harga tanah tetap bisa dikontrol," katanya.
Agar harga tanah tidak semakin mahal, kata Nur Hasan, masyarkat perlu diedukasi tentang aturan penjualan tanah. Dia menyarankan agar warga pemilik tanah yang hendak menjual tanahnya bisa menyewakan dalam bentuk hak guna bangunan atau hak pakai atas tanah.
"Misalnya dengan menyewakan selama 20 tahun sehingga hak milik atas tanah tidak hilang. Yang punya tidak kehilangan hak miliknya dan mendapat kompensasi, si pengusaha bisa terus menjalankan usahanya," kata dia.
Dia mengharapkan agar pemerintah pusat dan daerah agar memerhatikan fenomena tidak terkontrolnya harga tanah dan meningkatnya edukasi pada masyarakat untuk tidak secara gampang menjual tanahnya pada pemilik modal. (*)
Berita ini merupakan laporan Teresa Ika, kontributor merahputih.com, untuk wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Baca berita terkait Yogyakarta lain di: Diundang WHO, Bocah Penjual Kopi Ungkap Kekerasan Anak di Panti Sosial