Pahit Manis Kuliah di Belanda, Bukan Cerita Negeri Van Oranje
Kamis, 20 Juli 2017 -
MerahPutih.com - Jika kamu membayangkan kuliah di Belanda itu seperti film Negeri Van Oranje, maka ada baiknya jangan percaya 100 persen. Mahasiswa S2 jurusan Innovation Management TU Eindhoven, Belanda Hatta Bagus Himawan memaparkan bagaimana beratnya kuliah di Belanda. Khususnya di Technische Universiteit atau kalau di Indonesia adalah perguruan tinggi institut. Kata dia, jika pendidikan di Indonesia menggunakan sistem semester, maka perkuliahan di Belanda dilakukan per-kuartil (tiga bulan).
Pada umumnya dalam satu kuartil, para mahasiswa mengambil tiga mata kuliah yang berbobot total 15 ECTS. Satu ECTS sendiri berarti 25 jam studi. Berarti, selama tiga bulan para mahasiswa harus meluangkan waktu selama 375 jam untuk belajar.
Tugas-tugas dan projek akhir langsung diumumkan dan pada saat itu juga langsung disuruh membuat kelompok kerja. Begitulah orang belanda yang sangat disiplin soal waktu. Sehingga jadwal-jadwal deadline juga sudah diumumkan.
Secara bersamaan, mahasiswa juga harus memperhintungkan kapan jadwal ujian akhir quartile. Jadi jika salah persiapan sedikit saja, maka jadwal perkuliahan pasti akan kacau dan pasti berdampak ke jadwal perkuliahan selanjutnya.
’’Berbeda dengan saat saya dulu kuliah di Indoenesia, yang dimana menggunakan sistem semester. Saya cenderung lebih santai, karena saya akan disibukkan oleh tugas-tugas kuliah dan ujian beberapa bulan menjelang semester berakhir. Dan kebiasaan ini terbawa saat kuliah disini. Alhasil saya kalang kabut menjalani kuartil pertama saya,’’ ungkap Hatta.
Bukan hanya belajar dan kuliah, Hatta juga harus memikirkan makan apa hari ini, mencuci pakaian dan tentunya membersihkan kamar. Jangan harap bisa sewa GoClean di Belanda, mengingat harga jasa manusia di Belanda sangat mahal.
Sebagai gambaran untuk pelayan di restoran bisa 7 euro per jam, yang dimana sekitar 100 ribu rupiah. Jadi untuk mahasiswa, uang sebanyak itu lebih baik digunakan untuk kebutuhan lain.
Saat S1 dulu, tugas biasanya dinilai berdasarkan hasil akhir dan kesimpulan. Bermodalkan mindset ‘yang penting selesai’ saja mungkin kita sudah bisa mendapatkan nilai bagus. Sayangnya hal ini tidak bisa diterapkan di Belanda, terutama untuk mengerjakan tugas essay. “Untuk tugas essay, konten dari tulisan kami sangat diperhatikan, bahkan sampai level terekstrim yaitu kata per kata. Kesalahan kecil bakal dapat ditemukan,” katanya.
Analisis dan argumen kita bakal diperhatikan dengan sangat detail, masuk akal atau tidak.’’Jadi, jangan harap akan mendapatkan nilai bagus dengan tulisan panjang tetapi konten dan isinya tidak jelas dan tidak tepat sasaran,’’ imbuh Hatta.
Untungnya, dosen di sini selalu bisa meluangka waktunya untuk mahasiswa-mahasiswanya. Mereka dengan senang hati menjelaskan kembali hal-hal yang dirasa kurang jelas.
Pun untuk meminta bertemu dengan dosen sangatlah mudah, cukup email dosen tersebut dengan 1-2 kalimat jelas dan simpel saja. Dosen tersebut pasti akan membalasnya. Tetapi kebaikan dosen tersebut jangan disalah artikan. Untuk penilaian, para dosen tidak main-main, mereka sangat objektif.
Yang sangat menarik, perpustakaannya sangat ramai. Berbeda dengan di Indonesia, di sini perpustakaan tidak pernah sepi kecuali saat liburan. Meskipun orang belanda sangat bisa menikmati hidup, tetapi jika sudah urusan belajar maka mereka akan fokus tidak sambil buka media sosial, game atau hal-hal lain yang mengganggu konsentrasi. ’’Dari sini saya melihat prinsip work hard and play harder benar-benar diimplementasikan,’’ imbuh alumnus ITS Surabaya itu.
Menurut Hatta, untuk lulus kuliah, bagi sebagian orang adalah suatu yang mewah. Dia sendiri pernah mengalami masa ini dimana untuk lulus satu mata kuliah saja susahnya minta ampun. Percaya atau tidak, pada quartile pertama, Hatta tidak ada satupun mata kuliah yang lulus. Alhasil dia harus mengulang ujian pada quartile selanjutnya.
Sehingga pada quartile dua Hatta harus menempuh enam ujian, bahkan terbesit pikiran untuk pulang saja ke Indonesia. Akan tetapi saat ingin menyerah Hatta selalu teringat perjuangan Iwa Koesoemasoemantri, Achmad Soebardjo, Mohammad Hatta, dan Ali Sastroamidjojo, para pembesar-pembesar negara Indonesua dalam menempuh kuliah di Belanda.
Barang tentu mereka dihadapkan kondisi yang lebih berat darinya. Hatta pun membulatkan tekad untuk menghadapi ini semua.
Terhitung satu bulan sebelum ujian, Hatta ke perpustakaan dari jam 10.00 pagi hingga jam 10.00 malam setiap hari tanpa ada yang terlewat satu hari pun. ’’Dan hasilnya, Alhamdulillah saya lulus semua, bahkan study advisor saya mengatakan bahwa case saya ini sangatlah langkah dan mereka masih tidak percaya jika saya bisa lulus semua mata kuliah tersebut,” kata dia.
“Ini tidak pernah mudah, tidak akan pernah, tetapi kita akan selalu diberi kesempatan berusaha dan membuktikannya bahwa kita generasi yang pantang mengucapkan kata menyerah,’’ imbuhnyanya. (ijo)