Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Jaga Keamanan, Negara Kelompok G7 Bakal Kawal Kapal Minyak Dari Timur Tengah

Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 12 Maret 2026

MerahPutih.com - Serangan Amerika dan Isreal ke Iran membuat Kawasan Timur Tengah memanas, termasuk serangan dua kubu terhadap fasilitas minyak baik di Iran maupun di negara tetangga termasuk Israel. Kondisi ini menbuat marga minyak melonjak.

Kelompok Tujuh (G7) sepakat menjajaki kemungkinan mengawal kapal-kapal di Timur Tengah setelah kondisi keamanan memungkinkan di tengah konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran,.

Menurut keterangan Prancis selaku ketua G7 tahun ini, setelah pertemuan daring antara para pemimpin negara anggota G7, Pemerintah Prancis menyatakan bahwa rencana pengawalan kapal itu bertujuan untuk memulihkan kebebasan navigasi di kawasan tersebut.

Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Minoru Kihara, menyatakan bahwa pengumuman tersebut merupakan keputusan Prancis sendiri sebagai ketua G7. Kihara enggan memberikan penjelasan lebih lanjut terkait hal itu.

Baca juga:

MBG Berpotensi Kena 'Sunat' Buntut Harga Minyak Dunia Meroket, Pemerintah Diminta Fokus Jaga Daya Beli Masyarakat

Jepang kemungkinan akan menghadapi pilihan sulit mengenai apakah akan bergabung dalam rencana pengawalan kapal oleh pasukan negara-negara G7 itu.

Hal tersebut karena Jepang sudah lama menganut kebijakan yang berorientasi pada pertahanan eksklusif di bawah konstitusi menolak perang. Jepang hanya mengizinkan penggunaan terbatas sebagai hak bela diri kolektif.

"Menjaga perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah adalah hal yang sangat penting bagi Jepang dan kami akan terus bekerja sama erat dengan negara-negara terkait, termasuk anggota G7, serta melakukan segala upaya diplomatik yang diperlukan untuk meredakan situasi secepat mungkin," tambah Kihara selaku juru bicara utama Pemerintah Jepang.

Jepang mengimpor lebih dari 90 persen minyak dari Timur Tengah, sehingga negara itu sangat rentan terhadap kemungkinan penutupan Selat Hormuz yang telah memblokir transportasi minyak dan gas dari para pemasok di kawasan tersebut setelah AS dan Israel menyerang Iran pada akhir bulan lalu.

Sementara itu, Oman telah mengevakuasi semua kapal dari terminal ekspor minyak utamanya di Mina al-Fahal sebagai upaya pencegahan di tengah meningkatnya ketegangan keamanan di kawasan tersebut, menurut sebuah laporan pada Rabu (11/3).

Evakuasi itu dilakukan sebagai tindakan preventif untuk memastikan keselamatan navigasi maritim dan fasilitas minyak di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang potensi serangan yang menargetkan infrastruktur energi atau kapal tanker minyak di Teluk Arab, demikian menurut Bloomberg.

Mina al-Fahal merupakan terminal ekspor minyak mentah utama milik Oman, yang berada sekitar 10 kilometer barat laut Ibu Kota Muskat. Terminal itu menjadi fasilitas strategis di sektor energi Oman.

Evakuasi dilakukan karena kapal tanker minyak dan fasilitas energi di sejumlah negara Teluk telah diserang. Hal itu mendorong beberapa pemerintah dan perusahaan pelayaran untuk memperkuat langkah-langkah keamanan. (*)

Baca Artikel Asli