MerahPutih.com - Setelah Afrika Selatan, giliran 186 juta penduduk Nigeria menjadi sasaran ekspor pemerintah Indonesia. Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, kesempatan tersebut sebaiknya segera dimanfaatkan oleh para pelaku usaha asal Indonesia.
"Kita jangan sampai terlambat untuk mengambil peluang ini," kata Enggartiasto di Lagos, Nigeria, Senin (24/7) waktu setempat.
Direktur Riset Center of Reforms Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal mengatakan kebijakan ekspor ke negara nontradisional bagus untuk mendompleng performa ekspor Indonesia.
Pasalnya, ekspor Indonesia ke negara-negara Afrika belum sebanyak ekspor ke negara tujuan utama ekspor seperti China, India, dan negara-negara eropa.
“Bagus dan tepat sekali menurut saya, karena satu dari sisi kalau kita melihat performa ekspor kita, pertumbuhan ekspor kita ke negara-negara yang bukan mitra dagang utama kita, yang nontradisional itu termasuk negara-negara di Afrika, pertumbuhan ekspornya lebih rendah,” kata Faisal ketika dihubungi wartawan di Jakarta, Kamis (27/7).
Faisal menegasakan bahwa diversifikasi ekspor harus terus didorong ke negara-negara nontradisional.
“Artinya ekspor untuk negara-negara yang bukan negara-negara tradisional, atau dalam kata lain diversifikasi ekspor itu harus terus didorong,” katanya.
Pada 2016, total perdagangan antara kedua negara mencapai 1,6 miliar dolar AS, dengan nilai ekspor Indonesia mencapai 310,8 juta dolar AS dan nilai impor sebesar 1,28 miliar dolar AS. Defisit bagi Indonesia sebagian besar berasal dari impor minyak dan gas.
Sementara, jika dilihat dari sektor nonmigas, sesungguhnya Indonesia mengantongi surplus 302,72 juta dolar AS. Produk ekspor nonmigas Indonesia ke Nigeria antara lain kertas, kelapa sawit, dan turunannya seperti halnya ekspor utama negara-negara Asia Tenggara ke Afrika yaitu antara lain obat-obatan dan bumbu-bumbu. (*)