Mengingat Panic Buying Awal Pandemi Agar Tak Terulang Selama Bulan Ramadan
Minggu, 10 April 2022 -
SEMINGGU jelang Ramadan, dari pasar tradisional hingga supermarket tampak penuh pembeli. Mereka memborong beberapa barang kebutuhan selama 'bulan puasa'. Tak jarang, pengeluaran jadi semakin besar tiap kali menjalani Ramadan di tiap tahun. Bahkan, pengeluaran tersebut belum ditambah alokasi dana khusus lebaran.
Berdasar survei SurveySensum melibatkan 1.500 responden di Jabodetabek, Surabaya, Medan, dan Bandung pada 25 Februari hingga 5 Maret 2022 memperlihatkan Warga +62 menyiapkan rata-rata Rp6,9 juta khusus belanja Ramadan 2022 atau naik sebesar sepuluh persen dibanding Ramadan ketika masa awal pandemi.
Bahkan, 57 persen responden mengaku akan memiliki pengeluaran lebih besar pada Ramadan 2022, sementara hanya 4 persen punya rencana mengetatkan pengeluaran, sedangkan 39 persen lainnya ingin mengubah atau mengadaptasi pengeluaran.
Sudah menjadi kebiasan tiap kali Ramadan dibarengi dengan peningkatan kebutuhan. Hal tersebut tentu saja tak bisa dihindari, namun bukan berarti tak bisa dikendalikan. Sebab, tiap orang harus bertanggungjawab terhadap pengelolaan keuangannya.
Kalap belanja selama Ramadan jangan dijadikan sebuah pemakluman. Apalagi, puasa justru melatih agar menahan diri terhadap segala bentuk napsu, termasuk napsu ingin memborong barang padahal tidak terlalu dibutuhkan.
Selain itu, kebiasaan kalap belanja jelas tidak baik karena dapat menyebabkan harga barang dan bahan pokok menjadi tidak stabil seperti terjadi pada saat awal masa pandemi. Ketika itu masyarakat menyetok barang, bahan makanan, hingga kebutuhan pokok sebanyak-banyaknya agar tak perlu keluar rumah.
Baca juga:
Ramadan, Momen Tepat untuk Terhubung dengan Lingkungan
Perilaku kalap belanja seperti itu justru membuat permintaan barang jauh lebih tinggi dari suplai sehingga menyebabkan kelangkaan dan kenaikan harga begitu tinggi. Fenomena panic buying pada masa awal pandemi sejatinya bisa jadi pembelajaran banyak pihak agar tak perlu diulang selama Ramadan.
Di masa awal pandemi, fenomena panic buying terjadi di banyak tempat bahkan tak cuma di Indonesia. Incarannya, tentu saja masker, obat, multivtamin, hingga susu berlogo beruang. Di pasaran, barang-barang tersebut sulit ditemukan dan kalau pun ada harganya melambung tinggi.
Ada sejumlah cara bisa dilakukan agar panic buying atau kalap belanja tidak terulang selama Ramadan. Coba berpikir positif agar tidak mengalami rasa cemas, khawatir, dan ketakutan berlebihan sehingga harus membeli beberapa barang dalam jumlah besar karena takut kehabisan. Selalu gunakan logika secara jernih ketika mengecek ketersediaan barang di pasar.
Selain itu pastikan untuk selalu berbelanja hanya sesuai porsi dan kondisi, karena seperti pada saat masa pandemi Covid-19 banyak berbelanja melebihi kebutuhan hingga tak jarang bahan makanan malah membusuk atau lewat masa konsumsinya.
Baca juga:
Jelang Ramadan, Siapkan 3 Hal Berikut Ini
Jangan mudah terlena potongan harga atau momen flash sale. Jika memang barang tersebut dibutuhkan tentu saja boleh dibeli dengan tetap sesuai kebutuhan. Namun, kalau tak butuh buat apa harus dipaksa membeli. Sebaiknya buat daftar belanja secara rinci agar tidak 'lapar mata'. Dari situ, kamu jadi tahu mana kebutuhan dan mana keinginan. Pisahkan dua hal tersebut secara tegas. Jangan sampai kebutuhan dan keinginan tercampur.
Dengan berbelanja sesuai kebutuhan maka kamu menjadi orang biijak. Begitu kalap belanja apalagi sampai mengorbankan harus berhutang karena malu menjalani puasa dan lebaran dengan sederhana, maka keuanganmu akan terganggu di kemudian hari. Puasa bukannya menjernihkan diri dari napsu malah menjadi 'hamba hutang'. (waf)
Baca juga:
Ketua DPD Minta Pemerintah Atasi Kelangkaan Bahan Pangan Jelang Ramadan