MerahPutih.com - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mencatatkan pertumbuhan aset sebesar 20 persen (yoy) atau mencapai Rp1.584,1 triliun pada kuartal I 2021. Kondisi ini, disebabkan oleh merger dari Bank Syariah Indonesia di bulan Februari 2021.
Direktur Keuangan dan Strategi Bank Mandiri Sigit Prastowo menyebutkan, kredit ending balance dan kredit average balance juga tumbuh baik, masing-masing sebesar 9,1 persen (yoy) mencapai Rp984,9 triliun dan 8,07 persen (yoy) atau mencapai Rp949 triliun.
Baca Juga:
Bank Mandiri Salurkan Kredit Rp65 Triliun dari Dana Penempatan Pemerintah
Kemudian NPL gross sebesar 3,15 persen dengan coverage rasio tetap dijaga pada level 220 persen. Begitu juga dengan kecukupan modal yang masih baik dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) secara bank only sebesar 18,51 persen.
Selain itu pendapatan bunga tumbuh sebesar 1,83 persen (yoy) dan beban bunga menurun sebesar 18,56 persen (yoy). Sedangkan free based income mengalami kontraksi minus 1,6 2 persen (yoy) atau mencapai Rp7,6 triliun rupiah dan pendapatan operasional mengalami kenaikan 7,16 persen (yoy) atau sejumlah Rp25,6 triliun.
Bank Mandiri juga mencatat pertumbuhan pada biaya operasional yang mencapai Rp11,5 triliun rupiah yang disebabkan oleh biaya merger Bank Syariah Indonesia.
Bank Mandiri mencatatkan penurunan laba bersih turun sebesar 25,24 persen (yoy) menjadi Rp5,9 triliun dari capaian sebelumnya sebesa Rp7,9 triliun.
Sedangkan kinerja anak perusahaan berkontribusi sebesar Rp871,2 miliar atau sebesar 14,7 persen dari laba konsolidasi Bank Mandiri.
Ia merinci, Bank Syariah Indonesia membukukan pembiayaan sebesar Rp159,1 triliun atau tumbuh 14,7 persen. Kemudian Mandiri Taspen menyalurkan pembiayaan Rp27,5 triliun, naik 26,3 persen (yoy). Begitu juga dengan Mandiri Sekuritas yang mencatatkan equality trading value sebesar Rp 160,7 triliun atau naik 19,9 persen (yoy).
Selain itu, Asuransi Jiwa AXA dan Mandiri Inhealth dengan total premium income mencapai Rp1,5 triliun, naik 4,9 persen (yoy). Serta Mandiri investasi yang memiliki aset under management yang naik 14,9 persen atau sejumlah Rp69,1 triliun.
Namun perusahaan finance yakni Mandiri Tunas Finance dan Mandiri Utama Finance mencatat adanya kontraksi minus 11,3 persen (yoy) atau mencapai Rp53,3 triliun. (*)
Baca Juga:
Jadi Dirut, Ini Langkah Darmawan Kembangkan Bank Mandiri