Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Dunia

Korea Utara Bantah Dalangi Peretasan Binance, Tuding AS Memprovokasi

Dwi Astarini - 1 jam, 26 menit lalu

MERAHPUTIH.COM — KOREA Utara membantah klaim yang menyebutkan pihaknya berada di balik peretasan fantastis USD 6,3 miliar (sekitar Rp 99 triliun) terhadap bursa kripto Binance. Korea Utara menyebut tuduhan tersebut sebagai ‘retorika konyol’.

Kim Yo-jong, pejabat tinggi Republik Demokratik Rakyat Korea (DPRK) sekaligus adik dari pemimpin Kim Jong-un, menyampaikan pada Selasa (3/11) bahwa tuduhan tersebut merupakan ‘upaya jahat’ lainnya dari AS untuk merusak citra publik Pyongyang.

Biro Investigasi Federal AS (FBI), Secret Service, dan para analis siber menyatakan Korea Utara mendalangi peretasan yang disebut-sebut sebagai terbesar dalam sejarah. Ini merupakan peretasan terbaru yang dikaitkan dengan Korea Utara, yang kerap dituduh mengandalkan kejahatan siber untuk membantu mendanai ekonomi mereka yang kena sanksi.

Analis blockchain dan FBI menyebut serangan ini dipimpin kelompok peretas bernaung di bawah dukungan negara bernama TraderTraitor. FBI telah menyeru kepada para mitra industri untuk membantu memblokir transaksi yang melibatkan akun-akun kripto yang terhubung dengan kelompok tersebut.

"AS telah melakukan provokasi basi dengan mengaitkannya kembali dengan Republik Demokratik Rakyat Korea," ujar Yo-jong, yang menjabat Direktur Departemen Urusan Umum Korea Utara, dalam sebuah pernyataan.

Baca juga:

Binance Kena Hack, Bekukan Aset Senilai USD 6,3 Miliar



Ia menyatakan tuduhan itu sebagai provokasi politik yang serius terhadap Korea Utara. “AS menyesatkan opini publik internasional seolah-olah seluruh kejahatan siber di berbagai belahan dunia merupakan perbuatan kami," katanya.

Meski demikian, Pyongyang telah disalahkan atas sejumlah serangan siber besar dalam beberapa tahun terakhir. Namun, semua tuduhan itu selalu dibantah Korea Utara.

Unit TraderTraitor, yang juga dikenal sebagai Lazarus Group, sebelumnya disalahkan atas peretasan bernilai rekor USD 1,5 miliar terhadap bursa kripto Bybit pada 2025.

Lembaga riset seperti think tank S Rajaratnam School of International Studies menyebut Korea Utara telah membangun operasi sibernya secara sistematis, merekrut mahasiswa berprestasi dari universitas-universitas dan mengirim mereka ke unit-unit peretas yang diawasi oleh badan intelijen Korea Utara.

Yo-jong menegaskan sudah menjadi sikap kebijakan yang konsisten dari pemerintah Korea Utara untuk menentang keras segala jenis tindakan berbahaya di ruang siber.




Binance Fokus Lindungi Pengguna




Sejak insiden tersebut terjadi, raksasa kripto ini sebagian besar memfokuskan pernyataan publiknya pada sifat teknis dari peretasan dan langkah tanggapan mereka untuk melindungi para pengguna. Juru bicara perusahaan mengatakan secara bersih (net) sebesar USD 4,72 miliar telah ditarik dari bursa sejak transaksi dibuka kembali pada Minggu.

Arus keluar bersih tersebut mewakili bagian yang relatif terbatas dari total aset Binance yang bernilai sekitar USD 157 miliar. Angka tersebut mencerminkan dampak dari peretasan, penarikan dana setelahnya, serta perubahan harga pasar.

Minggu lalu, pihak perusahaan menyampaikan bahwa pemeriksaan awal menunjukkan adanya laptop salah satu teknisi yang berhasil diretas sehingga memungkinkan pelaku melakukan penarikan dana tanpa izin.

Perdagangan mata uang kripto utama di Binance telah dilanjutkan kembali setelah bursa bekerja sama dengan para penerbit (issuer) untuk membekukan aset-aset yang terdampak oleh peretasan.

Perusahaan berulang kali menegaskan akan menanggung seluruh kerugian yang terkait dengan serangan tersebut dan sejauh ini telah mengganti sekitar 95 persen dari aset yang dicuri dalam peretasan itu.(dwi)

Baca juga:

Binance Digugat Lantaran Gunakan Ikon Tupai, Kok Bisa?

Baca Artikel Asli