MERAHPUTIH.COM — PEMIMPIN Korea Utara Kim Jong-un memuji tentara Korea Utara meledakkan granat sendiri saat bertempur untuk Rusia melawan Ukraina. Pernyataan Jong-un itu mengonfirmasi kebijakan medan perang yang telah lama diduga.
Dalam pidato pekan ini, pemimpin Korea Utara itu mengatakan mereka yang tanpa ragu memilih meledakkan diri, melakukan serangan bunuh diri, demi mempertahankan kehormatan besar ialah pahlawan.
Jong-un, dalam pidatonya pada Senin, juga memuji mereka yang gugur dalam pertempuran. “Mereka yang gugur di garis depan serangan dan mereka yang tersiksa oleh rasa frustrasi karena gagal menjalankan tugas sebagai prajurit yang diberi perintah, bukan karena rasa sakit akibat tubuh mereka yang terkoyak peluru dan ledakan, mereka juga dapat disebut sebagai pejuang setia partai dan patriot,” katanya, dikutip BBC.
Korea Selatan memperkirakan sedikitnya 15.000 tentara Korea Utara telah dikirim untuk membantu Rusia merebut kembali wilayah di Kursk bagian barat, dan lebih dari 6.000 di antaranya telah tewas sejauh ini. Baik Pyongyang maupun Moskow belum mengonfirmasi angka tersebut.
Baca juga:
[HOAKS atau FAKTA]: Korea Utara Kirim 50 Ribu Tentara Elitnya untuk Berperang Bantu Iran
Badan intelijen dan para pembelot mengatakan para tentara itu berada di bawah perintah Pyongyang untuk bunuh diri daripada ditangkap Ukraina. “Pengorbanan diri mereka tanpa mengharapkan kompensasi, dan pengabdian tanpa mengharapkan imbalan. Inilah definisi puncak loyalitas tentara kita,” kata Jong-un di Pyongyang pada Senin (27/4), dikutip media pemerintah KCNA.
Di Korea Utara, para tentara diajarkan bahwa tertangkap musuh merupakan tindakan pengkhianatan. Awal tahun ini, stasiun televisi Korea Selatan Munhwa Broadcasting Corporation (MBC) menayangkan program yang menampilkan dua tawanan perang Korea Utara di Ukraina, salah satunya mengatakan di depan kamera bahwa ia menyesal tidak mengakhiri hidupnya.
“Semua orang lainnya meledakkan diri. Saya gagal,” kata tawanan tersebut.
Badan Intelijen Nasional Korea Selatan tahun lalu mengatakan mereka menemukan memo pada jasad tentara Korea Utara yang menunjukkan praktik ekstrem ini.
Pada Juni 2024, Presiden Rusia Vladimir Putin dan Kim menandatangani kesepakatan yang menjanjikan bahwa kedua negara akan saling membantu jika terjadi agresi terhadap salah satu pihak. Saat itu, Jong-un menyebut perjanjian tersebut sebagai yang terkuat yang pernah ada.
Selain mengirim tentara, Korea Utara juga berjanji akan mengirim ribuan pekerja untuk membantu membangun kembali wilayah Kursk.(dwi)
Baca juga:
Tidak Percaya Komitmen Putin, Uni Eropa Sepakat Perkuat Pertahanan di Ukraina