MERAHPUTIH.COM — KIM Jong-un dikabarkan meninggal dunia. Kabar yang belum terverifikasi itu menyebar luas di media sosial. Jong-un dikabarkan mengalami pendarahan otak mendadak. Di lain sisi, media pemerintah Korea Utara justru melaporkan kunjungan Jong-un ke sebuah pameran publik.
Rumor tersebut dilaporkan pada Selasa (20/10) oleh media tabloid Inggris The Sun, New York Post, dan Economic Times dari India. Mereka mengutip unggahan media sosial dengan klaim bahwa Jong-un mengalami pendarahan otak parah, koma, dan dilarikan ke sebuah rumah sakit di Beijing.
Baca juga:
Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un Puji Pasukan yang Ledakkan Diri demi Hindari Penangkapan Ukraina
Menyebar di Platform X
Klaim tersebut dilaporkan berasal dari sebuah unggahan di platform X oleh Wanjun Xie, seorang pembangkang asal Tiongkok yang berdomisili di Amerika Serikat.
Dalam unggahannya pada Senin, Xie mengklaim Jong-un mengalami pendarahan otak parah, kehilangan kesadaran, dan dipindahkan ke Peking Union Medical College Hospital di Beijing karena minimnya fasilitas medis di Korea Utara. Namun, diktator Korea Utara ini akhirnya meninggal dunia.
Ia juga mengklaim bahwa jenazah Jong-un telah dibawa kembali secara rahasia ke Korea Utara dan kematiannya dirahasiakan.
Bantah dengan Foto
Tidak ada bukti yang disertakan untuk mendukung klaim-klaim tersebut.
Xie mengidentifikasi dirinya sebagai ketua Chinese Democratic Party, sebuah organisasi yang dilarang otoritas Tiongkok, dan tercatat pernah menyebarkan klaim tidak terverifikasi lainnya di media sosial, termasuk spekulasi mengenai kematian Presiden Tiongkok Xi Jinping dan dugaan penggunaan pemeran pengganti (body double).
Seperti dilansir The Korea Times, Media pemerintah Korea Utara tidak merespons spekulasi tersebut secara langsung. Namun, pada Selasa, media Korut melaporkan Jong-un mengunjungi pameran pakaian dan alas kaki di Pyongyang pada hari sebelumnya. Foto-foto yang dirilis media pemerintah memperlihatkan Jong-un sedang berkeliling mendampingi putrinya, Ju-ae.
Para pejabat diplomatik dan keamanan Korea Selatan menyatakan mereka tidak mendengar informasi apa pun yang mendukung klaim tersebut.(dwi)
Baca juga: