MerahPutih.com - Perekonomian dunia dinilai masih akan mengalami kontraksi pada tahun ini seiring dengan negara maju terkena gelombang kedua pandemi meskipun pada kuartal III sempat mengalami pemulihan. Saat ini, Eropa sedang mengalami second wave COVID-19.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan, terjadinya second wave pandemi di berbagai belahan negara maju Eropa dan Amerika Serikat (AS) akan menghasilkan penanganan yang berbeda dibandingkan saat first wave.
Ia menegaskan, dampak pandemi COVID-19 di Asia dari sisi perekonomian, relatif lebih baik dibandingkan berbagai negara di Eropa. Hal ini tercermin dari berbagai proyeksi lembaga internasional. IMF memprediksi tahun depan ekonomi dunia akan tumbuh di level 5,2 persen, OECD memperkirakan tumbuh 5 persen, dan Bank Dunia memproyeksikan tumbuh 4,2 persen.
Baca Juga:
[HOAKS atau FAKTA]: Sri Mulyani Jual Pulau Bali untuk Bayar Utang
Sri mengatakan, dampak pandemi di Indonesia, memberikan optimisme tersendiri karena pemerintah terus mengupayakan pemulihan dengan kebijakan Gas dan Rem dalam rangka mengikuti perkembangan pandemi.
Langkah ini, tercermin pada pemulihan ekonomi yang mulai terlihat pada kuartal III yaitu minus 3,49 persen dari minus 5,32 persen pada kuartal II. Agregat demand pada kuartal III menunjukkan pemulihan baik dari sisi konsumsi, investasi, hingga ekspor dan hanya impor yang masih dalam situasi cukup tertekan.
Selain itu, mayoritas sektor produksi juga menunjukkan pemulihan yaitu 12 dari 17 sektor dan tiga sektor memiliki pertumbuhan positif seperti pertanian, informasi dan komunikasi, serta jasa keuangan.
Sementara untuk sektor terdampak COVID-19 sudah mulai menunjukkan pemulihan meski masih di zona negatif seperti dari industri pengolahan, perdagangan, transportasi dan akomodasi.
“Kita berharap dengan pemulihan ekonomi global dan optimisme penemuan vaksin maka ayunan pembalikan arah ini akan semakin terakselerasi,” ujarnya.
Baca Juga:
Harbolnas 2020 Tetap Jaya di Masa Pandemi