MerahPutih.com - Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), menjadi perhatian saat menghadiri persidangan kasus dugaan pencemaran nama baik terkait tudingan ijazah palsu di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Kamis (5/11).
Jokowi hadir sebagai saksi dalam perkara yang melibatkan Roy Suryo dan Tifauzia Tyassuma alias dr. Tifa. Namun, selain kehadirannya dalam persidangan, penampilan Jokowi juga menarik perhatian.
Ia terlihat mengenakan kemeja batik bernuansa cokelat dengan motif parang yang dipadukan dengan peci hitam. Motif batik yang dikenakannya tersebut bukan sekadar memiliki nilai estetika, tetapi juga menyimpan filosofi mendalam dalam kebudayaan Jawa.
Batik parang dikenal sebagai salah satu motif klasik yang sarat makna. Motif ini merepresentasikan nilai perjuangan, keteguhan hati, hingga semangat pantang menyerah yang diwariskan secara turun-temurun.
Mengenal Asal-usul Motif Batik Parang
Dikutip dari berbagai sumber, nama parang secara etimologis berasal dari kata dalam bahasa Jawa, yakni pereng, yang berarti lereng atau tebing miring.
Makna tersebut tercermin dalam bentuk motifnya yang menyerupai huruf S. Polanya tersusun secara diagonal dan saling berkesinambungan sehingga membentuk tampilan khas yang menjadi ciri batik parang.
Susunan motif tersebut kerap dimaknai sebagai gambaran ombak laut yang terus bergerak tanpa henti. Filosofi ini melambangkan semangat perjuangan yang tidak pernah terputus, keteguhan hati, serta sikap pantang menyerah dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Baca juga:
Momen Jokowi Tunjukkan Ijazah saat Hadir Sebagai Saksi di PN Jakarta Timur
Filosofi Batik Parang: Perjuangan dan Keteguhan Prinsip
Dalam tradisi Jawa, batik parang tidak hanya menggambarkan semangat perjuangan. Motif ini juga mengandung pesan mengenai pentingnya menjaga prinsip, menerapkan kedisiplinan, dan mengendalikan diri.
Filosofi tersebut mengajarkan bahwa seseorang perlu menghadapi berbagai persoalan dengan keteguhan hati dan kebijaksanaan. Nilai-nilai inilah yang membuat batik parang memiliki makna lebih dari sekadar karya seni tekstil.
Selain filosofi kehidupannya, motif parang juga mempunyai kedudukan khusus dalam sejarah kebudayaan Jawa.
Batik Parang Pernah Menjadi Motif Larangan Keraton
Pada masa Kesultanan Mataram, sejumlah motif parang termasuk dalam kategori batik larangan. Istilah tersebut merujuk pada motif batik yang penggunaannya diatur berdasarkan kedudukan dan lingkungan keraton.
Keterkaitan dengan tradisi kerajaan membuat batik parang kerap diasosiasikan dengan kewibawaan, kepemimpinan, kekuasaan, serta tanggung jawab.
Nilai historis tersebut turut memperkuat posisi batik parang sebagai salah satu motif klasik yang memiliki tempat istimewa dalam kebudayaan Jawa.
Baca juga:
Jokowi Tunjukkan Ijazah S-1 UGM di Sidang Roy Suryo, Akui Fotonya Berkumis Tipis dan Pakai Kacamata
Batik Parang yang Dikenakan Jokowi dan Maknanya
Penampilan Jokowi dengan kemeja batik bermotif parang dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur memperlihatkan bahwa batik tetap menjadi bagian dari identitas budaya Indonesia yang dikenakan dalam berbagai kesempatan.
Meski belum ada keterangan mengenai alasan khusus Jokowi memilih motif tersebut untuk menghadiri persidangan, batik parang memiliki filosofi yang lekat dengan perjuangan, keteguhan prinsip, dan semangat pantang menyerah. (Far)