MerahPutih.com - Jakarta akan terus dilanda banjir jika hujan dengan intensitas tinggi atau ekstrem terjadi, dikarenakan insfrastrukturnya terbatas.
Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta menyebut infrastruktur pengendali banjir yang ada di ibu kota masih belum sepenuhnya mampu menghadapi curah hujan ekstrem.
Kapasitas desain ini ditentukan dari probabilitas curah hujan yang terjadi, di Jakarta kapasitas desain yang digunakan yaitu 100-150 mm,
kata Kepala Dinas SDA DKI, Ika Agustin Ningrum, Jumat (29/5).
Dalam beberapa tahun belakangan karena perubahan iklim, curah hujan yang terjadi cenderung tinggi dan ekstrem yaitu 150-250 mm.
"Jadi, pembangunan infrastruktur pengendali banjir di Jakarta efektif untuk curah hujan 100-150 mm, sedangkan untuk curah hujan yang lebih tinggi lagi dibutuhkan kapasitas infrastruktur yang lebih besar," ucapnya.
Ika menambahkan, pihaknya telah memiliki berbagai infrastruktur pengendali banjir, mulai dari pompa air, tanggul sungai, saluran drainase, hingga waduk, situ, atau embung. Berbagai infrastruktur itu dibangun dengan kapasitas desain atau kemampuan menampung dan mengalirkan aliran permukaan dari curah hujan dengan besaran tertentu.
Baca juga:
DKI Jakarta dan Banten Kolaborasi Atasi Banjir, Sampah Bakal Diolah Jadi Listrik
Lebih lanjut, Ika menjelaskan, peningkatan kapasitas infrastruktur pengendali banjir membutuhkan lahan dan biaya pembangunan yang jauh lebih besar. Meski begitu, Pemerintah DKI tetap melakukan upaya untuk mengatasi banjir di ibu kota, salah satunya adalah dengan menyediakan pompa stasioner dan pompa mobile.
Berdasarkan data hingga 18 Mei 2026, Pemprov DKI telah memiliki 683 unit pompa stasioner yang tersebar di 246 lokasi. Selain itu, terdapat 540 unit pompa mobile yang tersebar di lima kota administrasi dan Kab. Kepulauan Seribu.
Ika menuturkan, pada rentang waktu 2025-2027, pihaknya juga melakukan pembangunan dan pemeliharaan sungai serta waduk. Hal itu dilakukan melalui proyek JakTirta dan National Capital Integrated Coastal Development/Tanggul Pengaman Pantai (NCICD).
Proyek ini, ucapnya, akan menghadirkan berbagai macam infrastruktur pengendalian banjir yang terdiri dari pembangunan sistem polder secara bertahap.
"Peningkatan prasarana dan sarana kali/sungai seperti peningkatan tanggul, pembangunan waduk atau embung untuk retensi air, peningkatan saluran drainase di wilayah yang rawan banjir,"
pungkasnya. (Asp)