MerahPutih.com - Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Februari 2026 tercatat meningkat mencapai 4,76 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Perkembangan ini antara lain dipengaruhi oleh low base effect, yakni Indeks Harga Konsumen (IHK) itu menunjuk pada persentase pertumbuhan IHK yang tampak sangat tinggi karena persentase pembanding pada periode sebelumnya sangat rendah
Pada Februari 2026, kelompok harga diatur pemerintah (administered prices/AP) mencatatkan inflasi sebesar 12,66 persen, melonjak apabila dibandingkan dengan Februari tahun sebelumnya yang deflasi sebesar minus 9,02 persen.
Bank Indonesia (BI) terus mencermati risiko inflasi domestik akibat kenaikan harga minyak dunia yang dapat meningkatkan biaya transportasi dan produksi, termasuk pangan, menyusul tingginya ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat (AS)-Israel.
Baca juga:
Pemerintah Janji Jaga Inflasi Harga Bergejolak Tidak Melebihi 5 Persen
Deputi Gubernur BI Aida S. Budiman memaparkan, bank sentral akan terus memantau indikator-indikator terkini terkait kondisi global yang dapat mempengaruhi perekonomian domestik pada tiga jalur utama, termasuk terkait dengan harga komoditas.
“Sekarang kita sudah mulai melihat bagaimana perkembangan harga minyak, harga emas, dan nanti juga penting untuk melihat harga pangan. Karena kalau harga minyaknya mengalami peningkatan, tentunya ada (dampak biaya) transportasi dan lain-lain,” kata Aida di Jakarta, Senin.
Bank sentral juga terus mencermati kondisi pasar keuangan yang dapat mempengaruhi nilai tukar. Hal ini juga dapat berdampak pada harga barang impor dan stabilitas harga dalam negeri.
Kemudian, BI mencermati perlambatan perdagangan global yang dapat menekan pertumbuhan ekonomi, yang kemudian mempengaruhi dinamika permintaan dan inflasi.
“Komitmen BI tetap menjaga stabilitas. Dan kami terus berada di pasar untuk memastikan stabilitas nilai tukar terjaga, termasuk juga inflasi,” kata Aida.