MerahPutih.com - Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM melansir, realisasi investasi China sepanjang 2021 hingga semester I 2026 mencapai 38,34 miliar dolar AS dan menciptakan lebih dari 500 ribu lapangan kerja di Indonesia.
Kini, BKPM menawarkan peluang investasi pusat data (data center) di Indonesia kepada investor China dalam forum bisnis Indonesia-China Partnership Forum di Jakarta, Kamis.
Deputi Bidang Pelayanan Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Andi Maulana mengatakan perkembangan data center menjadi salah satu peluang investasi yang menjanjikan karena didukung pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang termasuk tercepat di Asia Tenggara.
Perkembangan data center atau pusat data menjadi salah satu peluang investasi yang sangat menjanjikan,
kata Andi dalam forum bisnis yang dihadiri oleh perwakilan dari 27 perusahaan China itu.
Baca juga:
Danantara Teliti Proyek Hilirisasi dan Data Center, Bakal Fokus pada Nilai Tambah
Berdasarkan paparan BKPM yang mengutip Mordor Intelligence, nilai pasar data center Indonesia mencapai sekitar 1,44 miliar dolar AS pada 2025 dan diperkirakan meningkat menjadi 1,83 miliar dolar AS pada 2026.
Nilai tersebut diproyeksikan terus tumbuh menjadi 3,48 miliar dolar AS pada 2031 dengan laju pertumbuhan tahunan majemuk (compound annual growth rate/CAGR) sebesar 13,71 persen.
Sementara itu, nilai pasar data center global diperkirakan meningkat dari 386,71 miliar dolar AS pada 2025 menjadi 684,39 miliar dolar AS pada 2031.
Prospek tersebut sejalan dengan pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang diproyeksikan memiliki nilai gross merchandise value (GMV) sebesar 180 miliar dolar AS hingga 340 miliar dolar AS pada 2030.
Ekonomi digital tidak lagi sekadar menjadi sektor pendukung, melainkan telah berkembang menjadi salah satu pilar utama pertumbuhan ekonomi nasional yang mendorong transformasi di berbagai sektor.
“Sebagai salah satu ekonomi digital dengan pertumbuhan tercepat di Asia Tenggara, Indonesia didukung oleh populasi muda yang berorientasi pada mobile first, akses internet yang semakin luas, serta kebijakan pemerintah yang pro-inovasi,” ujarnya. (*)