Merahputih.com - Indeks Harga Saham Gabungan IHSG) membuka lembaran perdagangan dengan kenaikan tipis, mencoba bertahan di tengah ketidakpastian arah suku bunga global.
Riak-riak pergerakan indeks acuan mencerminkan sikap wait and see para pelaku pasar modal menyikapi rilis data makroekonomi terbaru.
Baca juga:
IHSG Berpotensi Volatil Hari Ini, Ketegangan Geopolitik Global Paksa Pemodal Ambil Sikap Risk Off
Pada pembukaan perdagangan Rabu (15/7) pagi, indeks acuan menguat 28,51 poin atau 0,47 persen menuju level 6.068. Sejalan dengan kenaikan tersebut, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 terangkat 2,61 poin atau 0,44 persen ke posisi 601,50.
IHSG berpeluang konsolidasi direntang level 5.950-6.125 pada perdagangan Rabu,
ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim.
Sentimen Global: Laju Inflasi AS dan Surplus Dagang Tiongkok
Sentimen positif global berembus dari penurunan tekanan harga di belahan barat laut dunia. Laju inflasi Amerika Serikat melambat ke angka 3,5 persen secara tahunan pada Juni 2026, turun dari torehan Mei sebesar 4,2 persen.
Selain itu, indeks harga produsen negara adidaya tersebut diproyeksikan melandai ke angka 6,2 persen. Kondisi ini meredam kekhawatiran pelaku pasar atas potensi pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut oleh bank sentral.
“Data inflasi melambat menurunkan ekspektasi akan potensi kenaikan suku bunga The Fed pada akhir bulan ini. Ketua The Fed Kevin Warsh memberikan kesaksian di hadapan Kongres mengatakan peningkatan inflasi dalam lima tahun terakhir akan menjadi masa lalu,” tutur Ratna Lim.
Dari daratan Asia, aktivitas perdagangan luar negeri Tiongkok mencatat rapor gemilang berkat ekspansi ekspor sebesar 27 persen serta pertumbuhan impor mencapai 36 persen. Performa solid tersebut menghasilkan surplus perdagangan fantastis bagi negara tirai bambu.
Berikut rincian data neraca perdagangan serta indikator makroekonomi global terbaru:
-
Surplus Perdagangan Tiongkok Juni 2026: Tembus Rp2.035 triliun (setara 125,62 miliar dolar AS), melonjak dari Mei sebesar Rp1.707 triliun (setara 105,43 miliar dolar AS).
-
Proyeksi Pertumbuhan PDB Tiongkok: Diperkirakan melambat ke level 4,5 persen pada Kuartal II-2026 dari sebelumnya 5,0 persen pada Kuartal I-2026.
-
Realisasi Inflasi Inti Amerika Serikat: Turun tipis ke angka 2,6 persen pada Juni 2026 dibandingkan capaian Mei sebesar 2,9 persen.
Sentimen Domestik: Pengetatan Aturan Transaksi Bursa Efek Indonesia
Langkah antisipatif datang dari otoritas pasar modal guna menciptakan iklim investasi sehat bebas manipulasi. Bursa Efek Indonesia resmi menerapkan penyaringan baru menggunakan formula rasio dampak harga guna mendeteksi saham berkonsentrasi kepemilikan tinggi. Kebijakan anyar ini menargetkan emiten-emiten dengan pergerakan harga tidak wajar tanpa sokongan likuiditas transaksi memadai.
Baca juga:
Indikator baru ini membandingkan fluktuasi harga saham terhadap kecepatan perputaran transaksi publik harian. Saham bervolume sepi namun mencatatkan lonjakan harga signifikan secara otomatis masuk radar pemantauan ketat otoritas. Menyusul penerapan sistem ini, daftar emiten berisiko tinggi kepemilikan terpusat kini membengkak signifikan.
Berikut data perkembangan saham domestik serta pergerakan bursa global:
-
Penambahan Emiten High Shareholding Concentration: BEI memasukkan 37 saham baru ke dalam radar pengawasan khusus.
-
Total Saham High Shareholding Concentration: Akumulasi emiten dalam pengawasan HSC kini genap berjumlah 51 saham.
-
Performa Penutupan Bursa Wall Street AS: Indeks S&P 500 naik 0,38 persen ke 7.543,59; Nasdaq menguat 1,10 persen ke 29.586,29; Dow Jones terkoreksi tipis 0,02 persen ke 52.508,27.
-
Performa Penutupan Bursa Saham Eropa: Indeks Euro Stoxx 50 menguat 0,12 persen; FTSE 100 naik 0,30 persen; DAX menguat 0,13 persen; CAC 40 naik tipis 0,03 persen.
-
Pergerakan Bursa Saham Regional Asia Pagi Ini: Nikkei Jepang melejit 1,04 persen ke 68.450,00; Hang Seng Hong Kong melonjak 1,34 persen ke 24.666,00; Shanghai China turun 0,19 persen ke 3.959,95; Strait Times Singapura naik 0,87 persen ke 5.543,29.