Merahputih.com - Keputusan Presiden AS Donald Trump melakukan blokade total Selat Hormuz memicu kepanikan global, memaksa para pelaku pasar mengambil sikap risk off atau menghindari aset berisiko.
Alhasil, fluktuasi tajam membayangi langkah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) perdagangan pekan ini.
Baca juga:
Sentimen Kecerdasan Buatan Selamatkan Wajah IHSG Pagi Ini, Saham Unggulan LQ45 Ikut Merangkak Naik
Pada pembukaan perdagangan Selasa (14/7), IHSG sempat bergerak menguat 19,92 poin atau 0,33 persen menuju level 6.057,76. Tren positif ini diikuti kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik tipis 0,74 poin atau 0,12 persen ke posisi 603,11.
Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat IHSG berpotensi melemah terbatas dengan support dan resistance 6.000-6.220,
Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus.
Blokade Selat Hormuz dan Sentimen Global
Rencana aksi militer AS di wilayah Timur Tengah memicu ekspektasi buruk bagi perekonomian dunia. Donald Trump mengumumkan rencana penutupan akses Selat Hormuz bagi kapal dagang Iran mulai 14 Juli 2026 pukul 16.00 waktu New York.
Kebijakan proteksionis ini diyakini akan mendongkrak harga minyak dunia secara signifikan serta memengaruhi kebijakan moneter global.
Situasi ekonomi global serta pengaruhnya bagi pasar finansial:
-
Blokade Kapal Iran: AS memblokir seluruh kapal logistik keluar masuk pelabuhan serta wilayah pesisir Iran.
-
Tarif Kargo Non-Iran: Kapal selain bendera Iran tetap boleh melintas dengan beban tarif tambahan sebesar 20 persen per kargo.
-
Prospek Suku Bunga: Kenaikan harga komoditas minyak mentah memperbesar peluang bank sentral AS (The Fed) menaikkan suku bunga acuan.
-
Koreksi Wall Street: Indeks S&P 500 turun 0,79 persen ke level 7.515,34, Nasdaq melemah 1,88 persen ke posisi 29.264,10, dan Dow Jones susut 0,26 persen ke 52.498,64.
-
Kondisi Bursa Asia: Indeks Hang Seng Hong Kong anjlok 1,06 persen ke 23.958,00, Strait Times Singapura turun 0,93 persen ke 5.419,29, sedangkan Shanghai melemah 0,16 persen ke level 3.907,95.
S&P Pertahankan Peringkat Utang Indonesia
Kabar baik datang dari lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings guna meredam kepanikan pasar domestik.
S&P memutuskan mempertahankan sovereign credit rating Indonesia pada level BBB dengan prospek stabil. S&P memproyeksikan kekuatan ekonomi domestik masih mampu bertahan menghadapi guncangan eksternal.
Baca juga:
Trump Blokade Selat Hormuz, Akan Terapkan Biaya Keamanan 20 Persen Atas Kargo
Berikut proyeksi indikator makroekonomi Indonesia menurut rilis terbaru S&P:
-
Pertumbuhan Ekonomi 2026: Ekonomi Indonesia diprediksi tumbuh kuat pada level 5,1 persen.
-
Rata-rata Pertumbuhan 2026-2029: Pertumbuhan ekonomi diproyeksikan stabil pada angka 4,9 persen per tahun.
-
Penyokong Utama Pertumbuhan: Ditopang oleh efektivitas belanja fiskal pemerintah, program hilirisasi industri, serta optimalisasi pengelolaan komoditas sumber daya alam.
-
Batas Defisit Anggaran: Pemerintah berkomitmen menjaga defisit APBN tetap di bawah batas maksimal tiga persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
“Penilaian positif dari S&P dapat menjadi katalis bagi sentimen terhadap pasar obligasi dan saham Indonesia, khususnya sektor berorientasi domestik seperti perbankan, konsumer, dan infrastruktur,” tutur Maximilianus Nicodemus.
Meskipun demikian, ruang penguatan pasar modal tetap bergantung penuh pada stabilitas makroekonomi dalam negeri, arus modal asing, serta kebijakan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI).

