Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

IHSG Hari Ini: Tembus 6.500, Aturan Saham Gocap Jadi Rp 1 dan Redupnya Bursa Saham AS

Angga Yudha Pratama - Jumat, 21 Agustus 2026

Merahputih.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka pada perdagangan Jumat (21/8) dengan senyuman.

Mengawali akhir pekan, IHSG langsung merangkak naik 22,48 poin (0,35 persen) menuju posisi 6.524,07. Langkah optimis ini juga diikuti oleh jajaran saham blue chip dalam indeks LQ45 yang ikut terkerek 2,62 poin (0,41 persen) ke level 641,36.

Baca juga:

Alasan Kurs Rupiah Jalan di Tempat Pagi Ini Versi Ekonom

Pasar saat ini sedang menimbang kombinasi kabar segar dari dalam negeri serta dinamika ekonomi global yang cukup dinamis.

Selama IHSG sanggup bertahan di atas garis Moving Average 100 (MA100), indeks punya peluang besar untuk menguji level 6.600 dan menutup celah (gap) di area 6.700. Meski begitu, investor tetap harus pasang kuda-kuda menghadapi angin sakal dari bursa global menjelang penutupan pekan,

Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim.

Gebrakan Baru BEI: Batas Saham Terendah Jadi Rp1 dan Revisi Auto Rejection

Dari panggung domestik, BEI menyiapkan perombakan aturan main yang cukup signifikan. Otoritas bursa berencana memangkas batas minimum harga saham yang bisa ditransaksikan di pasar reguler dan tunai, dari yang sebelumnya Rp50 (saham gocap) menjadi Rp1 per lembar saham.

Ilustrasi

Langkah ini diimbangi dengan rencana penghapusan dua kriteria Papan Pemantauan Khusus, yaitu:

Selain itu, skema Auto Rejection Bawah (ARB) dan Auto Rejection Atas (ARA) ikut ditata ulang dengan rincian sebagai berikut:

1. Ketentuan Auto Rejection Bawah (ARB):

2. Ketentuan Auto Rejection Atas (ARA):

Uji coba sistem baru bersama para Anggota Bursa (AB) dijadwalkan berlangsung pada 22 dan 29 Agustus 2026. Jika seluruh proses berjalan mulus, BEI menargetkan aturan anyar ini resmi berlaku efektif mulai 7 September 2026.

Bayang-Bayang Yield Obligasi AS dan Fluktuasi Pasar Global

Beralih ke lanskap global, lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) menjadi sorotan utama.

Meskipun Departemen Keuangan AS berencana menggelar buyback obligasi secara masif, imbal hasil tenor 10 tahun tetap melompat lebih dari 5 basis poin (bps) ke posisi 4,704 persen. Begitu pula dengan tenor 30 tahun yang naik 5 bps ke angka 5,248 persen.

Kenaikan imbal hasil obligasi ini berisiko mengerek biaya pinjaman korporasi. Jika tren kenaikan berlangsung lama, profitabilitas perusahaan bisa tergerus dan menahan laju penguatan bursa saham.

Baca juga:

Rupiah Tahan Napas di Rp17.748 per Dolar AS, IHSG Malah Asyik Unjuk Gigi Pagi Ini

Di sisi lain, harga minyak mentah melesat lebih dari 2 persen menyusul sinyal tegas Departemen Keuangan AS yang siap menjatuhkan sanksi ekonomi berat kepada Iran.

Pergerakan bursa global sepanjang perdagangan kemarin mencatatkan dinamika beragam:

Baca Artikel Asli