Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

IHSG Anjlok, Investasi Safe Haven dan Saham Energi Melejit Imbas Konflik AS-Iran

Wisnu Cipto - Senin, 02 Maret 2026

MerahPutih.com - Tensi geopolitik antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel mendorong investor global mengalihkan dana ke aset safe haven seperti emas, dolar AS, dan obligasi pemerintah AS.

Untuk saham-saham perusahaan yang bergerak di sektor energi juga diperkirakan akan menjadi incaran investor di tengah kondisi saat ini

“Investor akan selektif ke saham energi atau komoditas yang diuntungkan kenaikan harga minyak,” kata Pengamat Pasar Modal Reydi Octa, saat dihubungi media, di Jakarta, Senin (2/3).

Baca juga:

Iran Tutup Pintu Negosiasi, Ilusi Kosong Trump Dibayar Nyawa Tentara AS

Peralihan dana ke aset safe haven di tengah konflik perang globak mencerminkan pola klasik investor saat menghadapi ketidakpastian geopolitik. Emas dan dolar AS selalu menjadi pilihan utama.

Imbasnya IHSG Melemah

Data perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (2/3) pukul 15.00 WIB menunjukkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), melemah 195,22 poin atau 2,33 persen ke posisi 8.040,16.

Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 2.981.000 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan mencapai 44,09 miliar lembar senilai Rp22,97 triliun. Sebanyak 99 saham naik, 727 saham turun, dan 132 stagnan.

Bagi IHSG, Reydi menyebut dampaknya negatif dalam jangka pendek karena investor asing mengurangi eksposur di emerging markets, termasuk Indonesia.

Baca juga:

Pasokan Minyak Dari Timur Tengah Terganggu, Indonesia Bakal Pilih Impor Dari AS

Karakter Pasar Saham

Menurut Reydi, dampak konflik ini cenderung jangka pendek dan berbasis sentimen. Dia menambahkan pasar biasanya cepat berkonsolidasi dan rebound apabila konflik tidak meluas serta tidak mengganggu pasokan energi global secara signifikan.

Namun, Reydi mengungkapkan lain cerita efeknya bila eskalasi konflik Iran dan AS itu semakin membesar. “Bila eskalasi membesar, efeknya bisa lebih dalam dan berkepanjangan,” imbuhnya, dikutip Antara

Akibatnya, lanjut dia, rupiah ikut tertekan, sementara volatilitas meningkat. “Kenaikan harga minyak juga menambah kekhawatiran inflasi,” tandas pengamat pasar modal itu. (*)

Baca Artikel Asli