MerahPutih.com - Potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) buruh pabrik keramik di Bekasi, Jawa Barat, mengemukan akibat mahalnya gas industri.
Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menelepon langsung Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri setelah menerima informasi adanya kelangkaan dan mahalnya gas.
Momen terjadi saat Dasco menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) di Jakarta, Selasa. Dia menelepon Simon sesaat sebelum menyampaikan sambutan di acara tersebut.
"Halo, Pak Dirut Pertamina ini saya lagi di Raker KSPI. Ya, saya tadi ditanyakan mengenai masalah gas industri. Jadi, ini saya tadi sudah rancang pidato cuma buyar semua nih gara-gara soal gas," kata Dasco saat menelepon Dirut Pertamina.
Baca juga:
Industri Otomotif Dihantui PHK Massal, Pemerintah Cuma Bisa Meyakinkan Perusahaan
Perbincangan dalam telepon itu dilakukan Dasco sambil mendekatkan gawainya ke mikrofon sehingga suara percakapan itu terdengar oleh audiens. Dalam telefon itu, Dirut Pertamina pun menyatakan akan segera berkoordinasi dengan PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk untuk menyikapi persoalan tersebut.
"Siap Pak Dasco, saya tentunya akan segera koordinasi dengan pihak PGN dan dari kita tentunya komitmen kita agar supaya kita akan lakukan penyesuaian," kata Simon dalam perbincangan telefon itu.
Ada ancaman PHK sebanyak 55.000 karyawan di sejumlah pabrik keramik di Bekasi akibat mahalnya gas industri tersebut. Pihaknya pun memastikan akan mencari jalan keluar mengenai permasalahan tersebut.
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Andi Gani Nena Wea menyebutkan, harga gas mengalami kenaikan dari 6 dolar AS kini sudah mencapai USD 23 per million metric british thermal units (MMBTU).
"Dua pabrik anggota saya yang terbesar di Bekasi tutup. Itu Granito, satu lagi menyusul Milan Keramik dan Mulia Keramik, karena gas industri. Ini bahaya sekali," ungkap Andi.
KSPSI sudah berkoordinasi Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Ia mengharapkan akan segera ada jalan keluar terkait persoalan tersebut 2-3 hari ke depan.
"Kita penghasil energi terbesar di dunia, alangkah mirisnya kita malah kekurangan gas di dalam negeri, kita malah ekspor. Itu, mudah-mudahan masalah cepat selesai," katanya.