MerahPutih.com - DPR akan memanggil Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) dalam rapat dengar pendapat (RDP) untuk mendalami wacana penutupan sejumlah program studi (prodi) yang dinilai tidak relevan dengan kebutuhan industri.
“Kami akan melakukan RDP dengan Kemendiktisaintek untuk mendalami berbagai hal terkait anggaran, penerimaan mahasiswa baru, kesejahteraan dosen, dan juga isu-isu aktual lainnya seperti hal ini,” kata Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian, Senin (27/4).
Baca juga:
Kemendiktisaintek Instruksikan Kampus Tutup Prodi Tidak Revelan, Fokus 8 Industri Strategis
Jadwal Pemanggilan Setelah Reses
Hetifah menegaskan, DPR akan mengkaji berbagai aspek sebelum mengambil sikap, termasuk dampaknya terhadap mahasiswa, dosen, dan keberlanjutan pendidikan tinggi.
“Pembahasan ini penting agar kebijakan yang diambil tidak hanya berorientasi pada kebutuhan industri, tetapi juga tetap memperhatikan pengembangan ilmu pengetahuan secara luas,” tegasnya.
Meski demikian, Hetifah menyebut jadwal rapat belum ditentukan karena DPR RI sedang memasuki masa reses. “DPR memasuki masa reses pekan ini dan baru akan kembali bersidang pada pertengahan Mei,” ujarnya.
Baca juga:
Miris! Tiap Tahun Rata-Rata 470 Ribu Lulusan Guru Jadi Pengangguran Terdidik
Fokus Prodi 8 Industri Strategis Nasional
Sebelumnya, Sekjen Kemendiktisaintek Badri Munir Sukoco menyampaikan rencana pemerintah mengevaluasi dan menutup sejumlah prodi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan masa depan.
“Nanti mungkin ada beberapa hal yang harus kami eksekusi dalam waktu yang tidak terlalu lama terkait dengan prodi-prodi perlu kita pilih, kita pilah, dan kalau perlu ditutup,” kata Badri dalam Simposium Nasional Kependudukan 2026.
Menurut Badri, langkah tersebut bertujuan meningkatkan relevansi pendidikan tinggi dengan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan zaman.
Untuk itu, lanjut Badri, Pemerintah menekankan perlunya pendidikan tinggi menyesuaikan prodi dengan delapan industri strategis nasional, meliputi bidang energi, pangan, kesehatan, pertahanan, maritim, hilirisasi, digitalisasi, dan manufaktur maju. (Pon)