Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

DPR Minta Kaji Rencana MBG di Luar Negeri, di Dalam Negeri saja Kalang Kabut

Dwi Astarini - Rabu, 03 Juni 2026

MERAHPUTIH.COM - ANGGOTA Komisi XI DPR RI Marwan Jafar menyoroti wacana perluasan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk anak-anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) di luar negeri. Ia meminta Badan Gizi Nasional (BGN) realistis karena pengelolaan program di dalam negeri saat ini masih kalang kabut.

Marwan menilai BGN tidak profesional dan gagal mengelola program secara transparan. Akibatnya, anggaran raksasa rawan bocor di tingkat bawah sehingga berpotensi merusak esensi program andalan Presiden Prabowo Subianto tersebut.

"Kami meminta BGN mengkaji ulang wacana penyaluran MBG untuk anak-anak PMI di luar negeri. Jangan sampai negara menambah beban pengeluaran baru yang belum mendesak. Urus saja dulu dalam negeri yang masih kalang kabut. Program yang niatnya baik ini bisa rusak kalau pengelolaannya tidak profesional dan tidak transparan.”

Marwan Jafar, anggota Komisi XI DPR RI



Ia mengingatkan Program MBG ditopang dana negara yang sangat besar. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2025 tentang APBN Tahun Anggaran 2026, program ini memperoleh pagu anggaran fantastis sebesar Rp 268 triliun.

Oleh karena itu, Marwan mendesak Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) segera melakukan audit investigatif secara transparan terhadap penggunaan anggaran jumbo tersebut. Ia juga mengkritik tajam kinerja Menteri Keuangan yang dinilai tidak jeli serta abai terhadap detail realisasi belanja di lapangan.

Baca juga:

Program MBG Butuh 4,8 Miliar Kemasan Susu Ukuran 115 dan 125 Mililiter, 3 Perusahaan Tingkatkan Produksi



"Menteri Keuangan harus jeli dan tahu detail jenis barang apa saja yang dibeli di lapangan. Selama ini Menkeu sering salah dan tidak tahu rinciannya, sehingga di tingkat bawah anggaran menjadi bocor. Penggunaan anggaran untuk program raksasa ini harus diaudit secara transparan oleh BPK,” kata wakil rakyat dari dapil Jateng III ini.

Penolakan perluasan program ke luar negeri ini juga didasari kondisi pasar keuangan domestik yang sedang tertekan hebat. Tekanan fiskal ini murni akibat ketidakmampuan pemerintah dalam mengelola sektor ekonomi dalam negeri, bukan karena faktor eksternal. Buktinya, kondisi pasar saham saat ini sedang rontok akibat aliran modal keluar (capital outflow) investor asing yang mencapai Rp 4 triliun pada 25-26 Mei 2026, dan melonjak menjadi Rp 8,52 triliun pada 29 Mei 2026.

"Situasi ini diperparah merosotnya nilai tukar rupiah yang menembus angka Rp 17.883 per dolar AS hari ini," ujarnya.

Marwan menegaskan pemerintah harus menegakkan disiplin fiskal yang ketat di tengah situasi darurat ini.

"Setiap rupiah anggaran negara wajib digunakan secara bijak dan efisien demi menyelamatkan kesehatan APBN serta menjaga keberlanjutan program strategis nasional," tutupnya.(Pon)

Baca juga:

Komisi IX DPR Minta Kepemimpinan Baru BGN Perkuat Tata Kelola Program MBG


Baca Artikel Asli