Merahputih.com - Debat pamungkas Pilwakot Tangerang Selatan (Tangsel) menuai kritikan. Pasalnya, para peserta debat tak memaparkan data kuantitatif sebagai dasar perhitungan dan pertimbangan pembuatan konsep program kerja.
Pengamat Komunikasi Politik Emrus Sihombing menuturkan, jika sudah ada data, pastinya, paslon tahu harus berbuat apa. Paparan data juga membuat publik bisa menagih janji-janji yang dikemukakan pada kampanye secara terukur.
"Saya melihat ini belum muncul dalam pilkada Tangsel, juga di banyak wilayah lain," kata Emrus kepada wartawan, Jumat (4/12).
Baca Juga
Rahayu Saraswati Lebih Memilih Membangun LRT di Tangsel karena Alasan Ini
Ia menyebut, semua calon ini minim angka dan data yang jelas. Padahal tiap pasangan calon dalam kontestasi politik, harus memiliki data yang kuat sebagai pijakan memaparkan program kerja kepada pemilih.
Dengan data, publik akan lebih tercerdaskan dalam memilih secara rasional, bukan karena alasan-alasan emosional. "Kalau sudah ada data, pastinya, mereka (paslon) tahu harus berbuat apa,"jelas dia.
Debat pilkada Tangerang Selatan diikuti oleh tiga pasangan calon (paslon). Muhammad-Rahayu Saraswati Djojohadikusumo (Sara) dengan nomor urut 1, Siti Nurazizah-Ruhamaben nomor urut 2, dan Benyamin Davnie-Pilar Saga Ichsan pada nomor urut 3.
Pada debat yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Tangsel dan bertemakan keamanan dan keadilan. Ketiga paslon adu gagasan mengenai keamanan dan keadilan itu.
Namun, mirisnya, Emrus menilai, tak satu pun paslon memiliki angka kejahatan di wilayah Tangsel. Begitu juga soal kemiskinan, tak satupun peserta membeber tingkat kemiskinan kini dan upaya menguranginya dengan menyebut angka.
Di sisi lain, pengungkapan data oleh para paslon, juga sumir. Para Paslon mengutip adanya survey yang menyebutkan preferensi warga Tangsel, namun tak disebutkan survey dilakukan oleh lembaga mana dan tujuan serta pendana surveynya.
"Klaim-klaim seperti ini kan menyebutkan adanya persepsi publik tapi justru mengaburkan substansinya. Apa yang mau dirubah. Pemimpin seperti apa yang diinginkan. Survei dari mana itu juga tidak dijelaskan dengan baik," ungkap Emrus.
Dalam debat, terpapar juga soal pertanyaan menyoal kinerja direksi BUMD Tangerang Selatan PT. PITS. Tetapi, tak satu pun pasangan membeberkan secara gamblang terkait kinerja dan kontirbusi PT PITS untuk Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kota Tangsel.
Emrus berharap, kedepannya para calon mau membuka programnya dengan berbasis data dan fakta yang jelas. Di acara debat itu sendiri, dibuka dengan paparan visi misi paslon.
Paslon nomor urut 1 Muhamad-Saraswati menegaskan, kehadirannya untuk mewujudkan masyarakat Tangerang Selatan yang damai, aman dan berkeadilan.
Mereka juga menyebutkan, keberagaman di Tangerang Selatan masih rentan terhadap kesenjangan. Salah satu contohnya adalah fasilitas bagi para penyandang disabilitas.
Baca Juga
Ini Alasan 'Relawan Muda Melangkah' Dukung Muhamad-Saraswati di Pilkada Tangsel
Sementara, pasangan calon nomor urut 2, Siti Nur Azizah-Ruhama Ben menegaskan, keadilan, kedamaian hanya akan bisa dicapai ketika ada pemerataan kesejahteraan.
Azizah menyebut, keamanan dan kedamaian itu muncul dengan sendirinya. Tidak boleh ada korupsi. Paslon terakhir, Benyamin Davnie-Pilar Saga mengingatkan mengenai banyaknya jumlah penduduk Tangerang Selatan.
Mereka berkomitmen ingin menjadikan Tangerang Selatan, kota yang ramah bagi semua golongan. Untuk ke depan, mereka akan melakukan peningkatan kapasitas birokrasi yang efektif dan efisien. (Knu)