BNPB Ungkap Data Terbaru Bencana Alam Sumatra: 166 Meninggal di Sumut, 90 di Sumbar

2 jam, 16 menit lalu - Ananda Dimas Prasetya

MerahPutih.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkap bahwa jumlah korban akibat bencana alam di Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh terus bertambah.

Di Provinsi Sumatra Utara, tercatat 166 korban meninggal dunia dan 143 orang masih dinyatakan hilang. Dampak terbesar terjadi di Kabupaten Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Kota Sibolga.

Sementara di Provinsi Aceh, sebanyak 47 korban meninggal, 51 orang hilang, dan 8 orang luka-luka. Jumlah pengungsi mencapai 48.887 kepala keluarga yang tersebar di berbagai wilayah, dengan sebaran tertinggi di Aceh Utara, Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Aceh Singkil.

Baca juga:

Polri Kerahkan Bantuan Udara ke Aceh, Sumut, dan Sumbar untuk Percepatan Penanganan Bencana

Adapun dua hari setelah penetapan status tanggap darurat bencana di Provinsi Sumatra Barat, tercatat 90 korban meninggal dunia, 85 orang hilang, dan 10 orang luka-luka. Kabupaten Agam menjadi wilayah dengan jumlah korban tertinggi.

“Korban jiwanya ada 90 yang meninggal dunia, 85 hilang, dan 10 luka-luka,” jelas Kepala BNPB, Letjen Suharyanto, dalam keterangan persnya, dikutip Minggu (30/11).

Data sementara menunjukkan sebanyak 11.820 kepala keluarga atau sekitar 77.918 jiwa mengungsi, terutama di Kota Padang dan Kabupaten Pesisir Selatan.

Baca juga:

Presiden Prabowo Pastikan Bantuan Bencana Sumatra Dikirim Terus-Menerus

Sejumlah jalur provinsi dan nasional terputus akibat longsor dan kerusakan jembatan, sehingga menyulitkan akses distribusi bantuan. Meski demikian, logistik dari Padang Pariaman dan Pesisir Selatan telah tiba, dan delapan titik tambahan sedang dalam proses pengiriman dengan pengawalan kepolisian.

BNPB memastikan seluruh upaya penanganan darurat terus dipercepat melalui koordinasi erat dengan pemerintah daerah, kementerian/lembaga, TNI, Polri, dan relawan.

“Percepatan pembukaan akses, pendataan lanjutan korban dan kerusakan, serta pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak menjadi prioritas utama operasi penanganan bencana di tiga provinsi tersebut,” tutur Suharyanto. (Knu)

Bagikan

Baca Original Artikel
Bagikan