MerahPutih.com - Ancaman terhadap ketahanan nasional Indonesia kini semakin bergeser dari bentuk militer konvensional menuju ancaman non-militer yang bekerja secara senyap.
Disinformasi, radikalisme, penyalahgunaan narkoba, degradasi moral, hingga konflik sosial menjadi tantangan nyata yang dihadapi bangsa saat ini.
Pergeseran tersebut menuntut pendekatan baru dalam membangun ketahanan nasional, dengan masyarakat ditempatkan sebagai aktor utama.
Hal itulah yang melatarbelakangi kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang digelar Fakultas Strategi Pertahanan (FSP) Universitas Pertahanan RI di Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor, Jumat (13/2).
Baca juga:
Orkestra Simfoni Praditya Wiratama Unhan Senang Aksi Joget Anggota DPR, Merasa Dihargai
Kegiatan ini mengusung penguatan nilai bela negara berbasis kearifan lokal, sebagai fondasi ketahanan nasional di tingkat komunitas.
Melalui sambutannya, Dekan Fakultas Strategi Pertahanan Unhan RI, Brigjen TNI Tri Setyo Subagyo selaku Wakil Dekan II Bidang Keuangan dan Umum mengatakan, bahwa karakter ancaman terhadap bangsa telah berubah secara fundamental.
“Ancaman terhadap bangsa tidak lagi didominasi militer konvensional. Tantangan yang kita hadapi justru berasal dari disinformasi, radikalisme, penyalahgunaan narkoba, degradasi moral, konflik sosial, dan melemahnya persatuan,” ujar Tri Setyo.
Ia juga menekankan, ketahanan nasional merupakan tanggung jawab bersama seluruh komponen bangsa, dengan rakyat sebagai subjek utama dalam sistem pertahanan semesta.
Pada konteks tersebut, bela negara dipandang sebagai instrumen strategis untuk membangun kesadaran dan ketangguhan masyarakat berbasis nilai kebangsaan serta kearifan lokal.
Baca juga:
Bela Negara Harus Hidup dalam Praktik Sosial
“Ketahanan nasional hari ini ditentukan oleh seberapa kuat masyarakat memahami dan mempraktikkan nilai bela negara dalam kehidupan sehari-hari,” kata Oktaheroe Ramsi.
Jonggol dipilih sebagai lokasi kegiatan karena posisinya sebagai wilayah penyangga ibu kota dengan dinamika sosial dan arus informasi yang tinggi, sehingga dinilai rentan terhadap penetrasi ancaman non-militer, terutama bagi generasi muda.
Kaprodi Peperangan Asimetris FSP Unhan RI, Kolonel Arh Dr. Bambang Utomo menilai, bahwa peperangan modern saat ini berlangsung di ruang sosial melalui narasi dan pengaruh.
“Peperangan asimetris bekerja melalui narasi dan pengaruh sosial. Karena itu, ketahanan nasional harus dibangun dari kemampuan masyarakat membaca dan merespons ancaman secara kritis,” ujarnya.
Menurutnya, penguatan kesadaran bela negara di kalangan pelajar dan komunitas lokal menjadi kunci untuk mencegah masyarakat terjebak arus propaganda, polarisasi sosial, serta degradasi nilai kebangsaan.
Baca juga:
Kegiatan PKM Unhan Beri Edukasi Bela Negara bagi Pelajar
Seluruh kegiatan dirancang secara terintegrasi agar nilai bela negara hadir secara aplikatif dan menyentuh kebutuhan nyata masyarakat.
Ketua Pelaksana PKM, Kolonel Czi Dr. Yermia Hendarwoto, yang juga Kaprodi Diplomasi Pertahanan FSP, menegaskan bahwa kegiatan ini tidak bersifat seremonial.
“Kami ingin bela negara dipahami sebagai kebutuhan bersama. Karena itu, pendekatan edukatif, sosial, dan kemanusiaan disatukan sehingga relevan dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat,” kata Yermia.
Melalui kegiatan ini, Dekan FSP Unhan RI menegaskan bahwa ketahanan nasional tidak hanya dibangun dari pusat kebijakan, tetapi juga dari desa dan komunitas yang sadar, solid, serta memiliki daya tahan menghadapi ancaman non-militer. (*)