MerahPutih.com - Setiap tahun jumlah bencana yang melanda Indionesia mencapai ribuan kali. Tercatat [ada 2021 sebanyak 4.042 kali, 2022 turun menjadi 3.544 kali. Lalu, kembali meningkat pada 2023 mencapai 5.400 kali bencana
Direktur Sistem Penanggulangan Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Agus Wibowo mengatakan, bencana yang terjadi di Indonesia 99 persen merupakan bencana hidrometeorologi atau yang berkaitan dengan iklim dan cuaca.
"Bencana ini ada hubungannya dengan iklim, cuaca, seperti banjir, abrasi pantai, hingga kekeringan,” kata Agus Wibowo di Jakarta, Senin (14/10).
Bencana hidrometeorologi ini, memberikan dampak buruk jika terus menerus dibiarkan, sehingga masyarakat perlu mengambil peran untuk mencegah bencana alam itu berlangsung.
Baca juga:
Jika Dirata-rata, Setiap Hari Indonesia Dilanda 10 Kali Berbagai Bencana
Seperti halnya abrasi pantai, yang banyak menghilangkan pulau-pulau kecil yang ada di Indonesia menjadi tenggelam, merupakan tantangan besar yang harus dihadapi saat ini.
“Abrasi pantai termasuk pulau-pulau yang hilang tadi, itu adalah masalah-masalah ke depan yang harus kita hadapi dari sisi bencana hidrometeorologi,” ucap dia.
Ia memaparkan, dampak buruk yang disebabkan oleh perubahan iklim menyebabkan es yang ada di Puncak Jaya semakin berkurang atau cair.
"Tidak hanya itu saja di area pertanian ini juga memberikan kerugian yang begitu besar," katanya.
Hal tersebut terjadi di sekitar area Papua Tengah akibat suhu yang terlalu dingin, sehingga menyebabkan pertanian di wilayah tersebut menjadi beku dan berujung gagal panen.
Baca juga:
“Di Papua Tengah itu ada kekeringan, karena suhunya terlalu dingin sehingga produk pertanian tidak bisa panen karena kedinginan, alias beku semua,” ujar dia.
BNPB tengah berupaya untuk membangun sebuah gudang logistik di wilayah tersebut guna mengatasi masalah yang terjadi di Papua Tengah bersama dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI). (*)