MERAHPUTIH.COM - MEDIA sosial (medsos) ramai dengan video pendaki Gunung Merapi via Selo. Hal ini mennjadi sorotan di tengah rekomendasi Balai Nasional Taman Gunung Merapi (BNTGM) untuk tidak mendaki karena adanya peningkatan aktivitas dari level normal ke waspada. Aktivitas pendakian Gunung Merapi tidak direkomendasikan sejak 22 Mei 2018 berdasarkan adanya peningkatan aktivitas dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).
Hal itu sesuai hasil evaluasi data pemantauan Gunung Merapi (Surat Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Nomor:271/45/BGV.KG/2018 tanggal 21 Mei 2018). Kemudian pada 5 November 2020, status aktivitas Gunung Merapi ditingkatkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) sebagaimana tercantum dalam Surat Kepala PVMBG Nomor :523/45/BGV.KG/2020 tanggal 5 November 2020.
Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM) Heri Wibowo mengatakan kejadian ini membuktikan masyarakat tidak menghiraukan imbauan pihak-pihak terkait, baik itu dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Gubernur DIY, dan Kepala BNPB.
“Kami menyayangkan karena sebelumnya dari BPPTKG, Sultan (Gubernur DIY), dan Kepala BNPB sudah memberikan imbauan larangan pendakian,” kata Heri, Selasa (7/7).
Baca juga:
Ia mengatakan pihaknya berencana melakukan pendekatan kepada masyarakat setempat. Pendekatan dengan warga secara tertutup dilakukan kawan-kawan Taman Nasional (TN). “Nanti rencana mau adakan pertemuan dengan warga. Taman Nasional bersama TNI, kepolisian bisa saja untuk melakukan penjagaan jalur pendakian,” kata dia.
Namun demikian, pihaknya tidak ingin ambil risiko karena dimungkinkan akan terjadi gejolak. Hal tersebut yang tidak ingin terjadi di lapangan.
“Kami bisa saja minta TN, polisi, dan TNI berjaga, tapi itu jangka pendek dan itu berisiko adanya bentrok atau benturan horizontal pasti viral lagi,” kata dia.
Ia tetap menyiagakan petugas di Selo untuk melakukan pendekatan terhadap masyarakat agar tidak melakukan pendakian Merapi.
“Kami sementara menahan diri walaupun teman-teman resor tetap stay di tempat kantor resor di Selo, sambil pendekatan ke warga. Ternyata karakter pendaki kita juga enggak rasional jadi sulit juga untuk melarang naik,” pungkasnya.(Ismail/Jawa Tengah)
Baca juga:
Hilang Sejak 20 Desember, Pendaki Ilegal Gunung Merapi Ditemukan Tewas dalam Jurang